Sunday, 19 November, 2017 - 14:56

10 Titik Banjir di Palu, Masalah Warisan yang Belum Terselesaikan

LANGGANAN BANJIR - Beginilah pemandangan banjir di Jalan Basuki Rahmat setiap kali hujan turun. Air sampai mengalir dan menyeberang perempatan Jalan Emi Saelan. (Foto : Eddy/ Metrosulawesi)

JALAN INI SERING BANJIR
  • Jln. Basuki Rahmat (bawah).
  • Jln Kartini (bawah).
  • Jln Sam Ratulangi.
  • Jln Raja Moili.
  • Jln Martadinata.
  • Jln Prof Moh Yamin.
  • Jln Diponegoro.
  • Jln Tombolotutu.
  • Jln Hayam Wauruk.
  • Jln Tg Santigi.

Palu, Metrosulawesi.com – Musim hujan masih akan melanda wilayah Sulawesi Tengah. Bahkan untuk hari ini, berdasarkan prakiraan yang dikeluarkan BMKG, cuaca di Palu akan turun hujan. Seperti biasa, jika hujan turun, luapan air akan terjadi di sejumlah ruas jalan dalam kota Palu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu, Singgih B Prasetyo, ketika ditanya soal itu membenarkan masih banyak jalan dalam kota Palu yang tergenang banjir setelah diguyur hujan. Sayangnya, dia belum bisa menjelaskan secara detail penanganan apa yang dilakukan untuk mengatasi banjir itu tidak terulang. Dia mengaku baru sebatas melakukan pendataan titik banjir. 

"Saya sudah perintahkan kepada  bidang Bina Marga untuk menginventarisir dan mngambil langkah-langkah penanganan secepatnya. Khususnya untuk jalan yang tergenang dalam jangka waktu yang lama," katanya menjawab Metrosulawesi melalu pesan singkat. Jumat, 14 Oktober 2016.

Banjir atau genangan air dalam Kota Palu merupakan permasalahan yang terus terjadi. Sejak zaman Rully Lamadjido menjabat walikota hingga kini persoalan banjir dalam kota belum juga teratasi.

“Ini pekerjaan rumah yang mestinya harus bisa diatasi oleh pak Walikota saat ini,” kata Wulan, salah satu warga di Jalan Basuki Rahmat.

Berdasarkan pantauan Metrosulawesi sedikitnya ada 10 jalan dalam kota Palu yang sering menjadi langganan banjir. Jalan-jalan itu yakni: Jln. Basuki Rahmat (bawah), Jln Kartini (bawah), Jln Sam Ratulangi, Jln Raja Moili, Jln Martadinata, Jln. Prof Moh Yamin, Jln Diponegoro, Jln Tombolotutu, Jln Hayam Wauruk, Jln Tg Santigi dan sejumlah ruas jalan lainnya.

Banjir terparah sering terjadi di Jalan Moh Yamin. Jika hujan turun, jalan akrab disebut “Jalur Dua” itu jadi sasaran banjir hingga setinggi lutut orang dewasa. Bila banjir terjadi, pengguna jalan terganggu. Bahkan tidak jarang pengendara motor harus mendorong sepeda motornya karena mesinnya tiba-tiba mati.

Di sisi jalan Moh Yamin ini sebenarnya, sudah tersedia drainase yang cukup besar. Sayangnya, pembuangan air ke drainase itu sudah tersumbat. Sehingga air yang ada di badan jalan tidak bisa mengalir ke dalam drainase.

Banjir terparah berikutnya adalah banjir di Jalan Basuki Rahmat bawah, tepatnya  di perempatan jalan. Di sana, bila hujan turun, air hujan yang berasal dari bagian atas langsung mengalir dan memenuhi perempatan jalan. Akibatnya, perempatan jalan itu mirip aliran sungai.

Selain di “Jalur Dua” di jalan Raja Moili banjir juga sering terjadi di dekat Anjungan Nusantara. Bahkan menunggu sampai tiga hari, genangan air baru bisa mengering. Lagi-lagi penyebabnya karena drainase. Jalan tersebut berbatasan langsung dengan trotoar, sehingga air tidak bisa mengalir dengan baik. Dan lagi pula tidak terdapatnya tempat peresapan air serta saluran air tempat mengalirnya air, itu untuk sisi kanan jalan.

Hal yang sama juga terjadi di jalan Soekarno Hatta, setelah bundaran MTQ. Di daerah tersebut, air yang tergenang pasca hujan cukup tinggi. Penyebabnya hampir sama, yakni adanya trotoar yang menghalangi air hujan untuk mengalir ke saluran air.

Sementara untuk jalan Hayamwuruk, penyebabnya yakni, saluran air yang tidak lagi berfungsi dengan baik. Dikarenakan terjadinya pendangkalan, akibatnya jika hujan cukup deras, maka air akan meluap kejalan. Bahkan sampai masuk ke dalam rumah sebagian warga. Tinggi air di jalan bisa mencapai satu jengkal atau sekitar 30 sampai 50 cm.

Drainase yang tidak stabil tersebut sudah sering dikeluhkan warga yang berada di jalan Hayamwuruk, hanya saja belum ada penanganan dari pemerintah terkait.

Di jalan  Diponegoro, sebelum dibuat menjadi dua jalur pada 2011, air hujan jarang merendam kawasan itu.

Namun setelah pemerintah membuat dua jalur di jalan sepanjang jalan sekitar dua kilometer itu kini sudah menjadi langganan genangan air.

"Pembuangan ke drainase tidak lancar karena kiri kanan jalan sudah hampir tertutup semua," kata Saiful, warga di Jalan Diponegoro.

Selain jalan, di pusat perbelanjaan juga sering menjai sasaran genangan air. Seperti di Pasar Tua Bambaru. Genangan air itu terjadi karena buruknya drainase perkotaan sehingga air tidak bisa mengalir dengan lancar.

"Bagaimana air bisa mengalir pak kalau tidak ada lagi tempat pembuangan air. Drainase mestinya untuk mengaliri air, justru penuh dengan sampah," kata warga di Pasar Tua Bambaru, Nining.

Kesadaran warga kota yang masih sering membuang sampah ke dalam drainase pernah disinggung oleh mantan Kadis  Pekerjaan Umum (PU) Kota Palu, Rahmat Kawaroe, saat masih aktif menjabat sebagai kadis.

“Kami masih menemukan masyarakat yang menjadikan drainase sebagai tempat sampah,” ujarnya kala itu.

Rahmat mengakui, drainase yang ada banyak yang tidak berfungsi dengan baik. Persoalannya adalah jalur air yang tertutup dengan sampah dan material.

Persoalan ini, kata Rahmat, disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga fasilitas umum dan kebersihan Kota.

“Drainase yang dibuat untuk jalan air justru tidak berfungsi. Air kemudian meluap dari dalam drainase lalu sebabkan genangan air di ruas jalan,” katanya. (hen/bs)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.