Monday, 20 February, 2017 - 16:40

14,09 Persen Penduduk Sulteng Miskin

ILUSTRASI - Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah berbanding terbalik dengan jumlah kemiskinan. (Grafis : Metrosulawesi)

Rangking Kedua di Sulawesi setelah Gorontalo

Palu, Metrosulawesi.com - Laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang berada di atas angka nasional ternyata berbanding terbalik dengan jumlah kemiskinan. Pasalnya masih ada sekitar lebih 413 ribu jiwa atau sekitar 14,09 persen dari jumlah penduduk, masih hidup di garis kemiskinan. Bahkan jika dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama angka tersebut terbilang meningkat.

Persentase 14,09 persen angka kemiskinan itu, lebih tinggi dibandingkan persentase angka kemiskinan secara nasional yang hanya 10,70 persen. Dengan persentase sebesar itu, Sulteng berada di urutan kedua se-Sulawesi setelah Gorontalo yang mencapai 17,73 persen dari jumlah penduduk. Setelah itu, Provinsi Sultra 13,74 persen. Angka kemiskinan terendah di Sulawesi dicapai Sulawesi Utara 8,34 persen kemudian Sulsel 9,40 persen.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, jumlah masyarakat miskin mencapai 413,15 ribu jiwa pada periode Maret-September 2016 lalu. Angka itu turun dari hasil survei sebelumnya di tahun yang sama. Namun relatif naik dibandingkan periode yang sama tahun 2015. Jumlah masyarakat Sulteng sendiri mencapai sekitar 2.808.818 Jiwa.

Perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin di Sulawesi Tengah selama periode 2012-2016 cenderung mengalami penurunan, namun di akhir-akhir periode mengalami fluktuasi. Pada September 2012 jumlah penduduk miskin sebanyak 410,98 ribu jiwa, sementara pada Maret 2013 turun menjadi sebanyak 406,97 jiwa, kembali menurun pada September 2013 menjadi 400,41 ribu jiwa.

Memasuki periode Maret 2014 angka kemiskinan kembali turun menjadi 392,65 ribu jiwa, pada September di tahun yang sama kembali turun menjadi 387,06 ribu jiwa. Angka kemiskinan kembali meningkat memasuki periode Maret 2015 sebanyak 421,63 ribu jiwa, sementara pada september 2015 kembali berkurang menjadi 406,34 ribu jiwa.

Angka kemiskinan masyarakat Sulawesi Tengah pada 2016 kembali meningkat, pada survei Maret tercatat sebanyak 420,52 ribu jiwa masyarakat miskin. Meski pada September 2016 tercatat sedikit menurun, namun angkanya masih sebesar 413,15 ribu jiwa atau 14,09 persen masyarakat hidup miskin di Sulawesi Tengah.

“Dibandingkan keadaan Maret 2016, tingkat kemiskinan di Sulawesi Tengah turun sebanyak 7,37 ribu jiwa, atau turun 0,36 persen poin,” ungkap Kepala BPS Sulawesi Tengah, Faisal Anwar, saat merilis data statistik perekonomian Sulteng di kantornya, Selasa 3 Januari 2016.

Pada September 2016 jumlah kemiskinan masyarakat di perkotaan meningkat sekitar 0,45 ribu jiwa. Sementara di pedesaan berkurang sekitar 7,82 ribu jiwa. Namun angka kemiskinan didominasi oleh masyarakat yang berdomisili di desa sebesar 337,25 ribu jiwa, sementara di kota hanya sekitar 75,90 ribu jiwa.

Periode Maret-September 2016 garis kemiskinan naik sebesar 1,89 persen, yaitu dari Rp 375.659 per kapita per bulan  menjadi Rp 382.775 per kapita per bulan pada September 2016.

Sulawesi Tengah sendiri mengklaim mengalami peningkatan perekonomian yang sangat signifikan karena mampu mengangkat laju pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas dua digit, bahkan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah memprediksikan perekonomian akan tumbuh 12,2 persen tahun ini. Namun pertumbuhan tersebut tidak menyentuh keseluruh lapisan masyrakat, atau secara inklusif.

Wajar saja, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sebagian besar ditopang oleh sektor pengolahan atau pertambangan. Dimana sektor tersebut sangat sedikit menyerap dan memberdayakan masyarakat lokal. Sehingga sektor ini tidak terlalu mempengaruhi perekonomian masyarakat lokal.

Menurut Kepala BI Perwakilan Sulawesi Tengah Miyono beberapa waktu lalu, sektor pertambangan merupakan sektor padat modal, yang mana dampak perekonomiannya hanya lebih dirasakan oleh pemodal saja. Sementara masyarakat lapisan bawah tidak terlalu terdampak. Belum lagi serapan tenaga kerja lokal yang sangat kecil di sektor itu.

Lain halnya ketika daerah ini ditopang oleh sektor pertanian dan perkebunan. Jika pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor ini, diyakini masyarakat akan lebih terdampak. Dan upaya mendorong ekonomi secara inklusif bisa terimplementasi dengan baik.

“Industri manufaktur dan sektor pertambangan masih menjadi sumber pertumbuhan utama di Sulawesi Tengah,” katanya.


Editor : Udin Salim

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan