Sunday, 18 February, 2018 - 05:34

16 PNS, 8 Perempuan Bertarung di Pilkada Sulteng

DR Irwan Waris. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Pengamat: Masyarakat Jangan Gadaikan Suaranya

Palu, Metrosulawesi.com - Bukan main, dalam tempo tiga hari 26-28 Juli lalu, 35 pasangan bakal calon kepala daerah terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Sulawesi Tengah.

Puluhan calon kepala daerah itu berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan. Ada pegawai negeri sipil (PNS), TNI, pengusaha, anggota DPRD, DPD RI, pensiunan, hingga hingga dosen dan seniman.

Bakal calon kepala daerah itu tersebar di delapan kabupaten/ kota yang akan menyelenggarakan pilkada serentak yakni Palu, Sigi, Poso, Tojo Unauna, Morowali Utara, Banggai, Banggai Laut, dan Tolitoli. Selain itu, dua pasang di antaranya calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah.

Catatan Metrosulawesi, terdapat 16 PNS yang harus mundur dari jabatannya untuk maju di pilkada. Hal itu diatur dalam Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN).

PNS maju di pilkada yang cukup banyak terdapat di Kabupaten Sigi. Ada lima orang yakni Nurzain Djaelangkara, Mohamad Agus Rahmat, Mohamad Irwan, Husen Habibu, dan Enos Pasaua.

Sementara di Kota Palu, ada Tahmidy Lasahido dan Hidayat. Daerah lainnya, Amdjad Lawasa di Poso. Sekretaris Provinsi Sulteng itu satu-satunya bakal calon yang berlatar belakang PNS maju di pilkada Poso.

Sementara di Tojo Unauna, sama dengan Sigi, juga terdapat lima orang PNS yakni Basrin Mohammad, Mahmud Lahay, Fatimah Hi Moh Amin Lasawedi, Husen Habibu dan Admin Lasimpala.

Kemudian di Morowali Utara kakak beradik Idham Ibrahim dan Mahmud Ibrahim yang juga PNS. Terakhir di Tolitoli juga terdapat dua orang yang berpasangan yakni Iskandar A Nasir dan Nurdin HK.

Pengamat politik Universitas Tadulako (Untad) Palu Irwan Waris mengatakan, panggung pilkada bukan hanya milik politisi. PNS juga berani terjun ke dunia politik setidaknya karena telah teruji terutama dalam hal kepemimpinan.

“PNS yang maju di pilkada telah menapaki jenjang karier dari bawah dan memiliki pengalaman memimpin karena yang maju di pilkada ini PNS yang sudah pernah menduduki jabatan strategis. Mereka ingin melayani masyarakat sebagai kepala daerah,” kata Irwan Waris.

Oleh karena itu, kata dia wajar jika PNS terjun di pilkada tahun ini karena mereka telah lama menjalin komunikasi dan melayani masyarakat.

“PNS juga diyakini bisa berkomunikasi baik dengan DPRD,” kata Irwan Waris.

Menurutnya, mundur dari PNS untuk maju di pilkada menandakan sebuah keseriusan.

“Bukan untuk main-main karena mereka rela meninggalkan PNS untuk maju di pilkada,” katanya.

Begitu juga anggota DPRD dan TNI yang mundur dari jabatannya. TNI telah menapaki karier kepangkatan dan jabatan sehingga sarat dengan pengalaman dalam memimpin.

Diketahui, bakal calon yang berlatar belakang TNI terbanyak di Poso. Ada Frany E S Djaruu, Yohanis Krisnajaya Syiban, dan Maxnover Kaiya. Satu lagi di Banggai Laut yang merupakan satu-satunya TNI yang maju di pilkada Banggai Laut tahun ini yakni Wenny Bukamo. Dia berpasangan dengan Tuty hamid yang pensiunan PNS.

Menurut Irwan Waris, apapun latar belakang pekerjaan bakal calon di pilkada yang terpenting dinilai oleh masyarakat adalah motivasi mereka maju di pilkada.

Masyarakat jangan memilih pemimpin yang tujuannya untuk memperkaya diri. Indikatornya, kata dia calon yang menggunakan uang untuk memobilisasi massa.

“Jangan pilih yang memobilisasi massa dengan uang. Karena kalau terpilih nanti uangnya harus dikembalikan dengan cara yang tidak terpuji, bisa korup,” katanya.

Masyarakat harus cerdas dalam memilih pemimpin dengan tidak “menggadaikan” suaranya.

“Jangan ‘gadaikan’ suara kita.  Memilih pemimpin adalah hak azasi yang diberikan Tuhan kepada kita. Jangan karena sembako berdampak lima tahun ke depan, marah Tuhan,” katanya.

Hal yang menarik di pilkada Sulawesi Tengah adalah tampilnya perempuan sebagai bakal calon kepala daerah. Sebut saja di Palu, Habsa Yanti Ponulele, Wiwikn Jumatul Rofi’ah. Selanjutnya Paulina (Sigi), Fatimah Hi Moh Amin Lasawedi (Tojo Unauna), Batia Sisilia Hadjar (Banggai), Tuty Hamid, Trin S Lulumba (Banggai laut), W Kristina Parinsi (Morowali Utara).

Meski hanya tujuh dari 35 bakal calon, namun menurut Irwan Waris sudah cukup.

“Lebih baik ketimbang tidak ada perempuan yang maju,” katanya.

Menurutnya, tampilnya perempuan di pilkada serentak tahun ini merupakan pertanda baik.

“Kita harus memberikan ruang kepada perempuan, tapi bukan karena kasihan. Perempuan di pilkada bukan untuk dikasihani, tapi kita pilih kalau memang berkualitas,” katanya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.