Friday, 22 June, 2018 - 09:59

7B Tanda Anak Konsumsi Narkoba

Pelman, SSos. (Foto: M Yusuf Bj/ Metrosulawesi)

BNN Berharap Semua Elemen Bersinergi

Palu, Metrosulawesi.com - Temuan BNN (Badan Narkotika Nasional) Kota Palu ini mengejutkan kita. Betapa tidak, selama 2017 lalu, lembaga antinarkoba itu menemukan sebanyak 1.200 siswa SM terindikasi menggunakan sabu atau zat adiktif terlarang lainnya.

“Sabu yang masuk ke Kota Palu ini adalah kw 4 (kualitas keempat) yang daya rusaknya luar biasa. Sedikit gambaran, bahwa pada 2015 kami lakukan razia di delapan SMA, kita dapatkan 225 siswa yang menggunakan sabu. Kemudian pada 2016 sebanyak 336 orang siswa SMA. Dan pada 2017, periode Januari-Maret, kami masuk ke delapan SMP, kami dapatkan 748 orang. Kemudian kami naikkan razianya ke 15 SMP, kami dapatkan 1.200 siswa terindikasi narkoba dan zat adiktif terlarang,” kata Pelman SSos, salah satu penyuluh BNN Kota Palu saat memberikan penyuluhan pada acara Integrasi Germas, PKK, BNNK, dan 3G di Kelurahan Tanamodindi, Sabtu, 24 Februari 2018.

“Dari 1.200 siswa tersebut, 128 di antaranya menggunakan sabu, tiga orang menggunakan ganja dan sisanya menggunakan obat THD dan lem fox,” ungkap Pelman.

Penggunaan narkoba atau zat adiktif di kalangan pelajar mulai dari tingkat SD hingga SMA sudah sangat memprihatikan. Pada pekan lalu, BNN Kota mendapatkan sebanyak puluhan siswa SD yang diduga kuat menggunakan zat adiktif. Dari tas mereka, BNN menemukan barang-barang berupa, rokok, lem fox dan fitting lampu yang sudah dimodifikasi sehingga mirip rokok eletrik.

Untuk tahun ini, kata Pelman, sebanyak empat siswa SMA di Palu Selatan telah mengakui menggunakan sabu. Mereka katanya, telah mendatangi BNN dan mengakui menggunakan narkoba.

“Kami harap semua elemen terkait bersinergi memberantas hal ini. Alhamdulillah saat ini, Pemkot Palu sangat antusias membantu BNN Kota Palu,” katanya.

Pelman mengungkapkan hingga saat ini, belum ada UU yang mengatur larangan menyalahgunakan lem fox. “Dalam lem fox ada kandungan lxd, yang hampir mirip dengan ganja. Bukan hanya lem fox, bisa tiner, bensin, semir sepatu dan spidol. Mendapatkan anak yang senang sekali mencium bau spidol, tolong, dicegah sejak dini,” katanya.

Yang terbaru saat ini, kata Pelman, penggunaan fitting lampu sebagai zat adiktif oleh anak-anak.

“Jadi menghisap liquid atau cairan dengan menggunakan fitting lampu. Daya rusaknya hebat sekali, apalagi kalau sudah dicampur dengan obat-obat tertentu,” katanya.

“Tanda-tandanya pada anak-anak yang mengonsumsi narkoba atau zat adiktif terlarang seperti lem fox, tandai dengan 7B yaitu Bingung, Bengong, Bego, Bodoh, Bolot, Bohong, Barang-barang sering hilang. Kalau ditanya anak bersangkutan, dari mana? Pasti jawabnya lama. Karena sifat narkoba ada tiga yakni depresan, halusinogen dan stimulan,” ungkapnya.

Pelman mengimbau kepada masyarakat agar lakukan pencegahan sedini mungkin jika mengetahui anak terindikasi narkoba.

“Jangan tunggu anak bersangkutan sudah rusak karena narkoba, baru dibawa ke BNN untuk rehabilitasi. Jangan seperti itu. Rehabilitasi tidak menyembuhkan. Rehabilitasi hanya memulihkan. Yang bisa menyembuhkan orang narkoba adalah dari keluarga, diri sendiri, dan agama yang diajarkan kepada anak bersangkutan,” katanya.

“Tiga bulan pertama di Balai Rehabilitasi, hanya detoksifikasi dilakukan kepada pengguna narkoba. Jangan heran, beberapa artis yang sudah masuk ke Balai Rehabilitasi, bisa kembali lagi menggunakan narkoba,” jelasnya.

Pelman mengungkapkan saat ini, sesuai aturan baru, pengguna narkoba hanya diberikan kesempatan dua kali masuk Balai Rehabilitasi.

“Jika ketiga kalinya seorang pengguna masuk rehabilitasi, maka akan langsung dijatuhi hukuman pidana. Ini aturan terbaru. Jadi diberikan batas dua kali saja masuk Balai Rehabilitasi,” katanya.

 
Editor: Udin Salim

Tags: