Tuesday, 22 August, 2017 - 05:42

Ajaran Islam dari Pue Imbatu

Rukun iman merupakan salahsatu diantara enam hal yang diajarkan oleh I Pue Imbatu setelah kembali dari tanah suci. (Grafis : Google image)

ADA beberapa cerita menarik mengenai Lokiya. Ulama dari Kampung Towale ini selalu diidentikkan dengan banyak hal yang mistik, sehingga sosoknya mulai dilingkupi oleh sejumlah mitos. Mitos-mitos itu masih berkembang dan dipercaya sebagai Sejarah Lokiya sendiri. Ketika pulang dari Makkah, beliau diberi gelar I Pue Imbatu, artinya ia telah dituakan oleh masyarakat Towale. Menurut Abdul Muis Thahir ada enam hal yang dilakukan I Pue Imbatu setelah kembali dari tanah suci, yaitu (1) Imbatu menyampaikan kepada Ingunggu tentang Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul yang sejak lama diketahuinya; (2) Tata cara pelaksanaan Shalat; (3) Tata cara pelaksanaan puasa Ramadhan tiga puluh hari; (4) Menunaikan pembayaran zakat fitrah atau zakat mal; (5) Menunaikan ibadah Haji di Mekah; dan (6) Memberikan penjelasan mengenai rukun Iman kepada neneknya dan semua keluarganya.

Argumen di atas, nama Igunggu disebutkan sebagai nenek I Pue Imbatu yang tidak mau meninggalkan kebiasaan lamanya. Namun jelas terlihat bahwa ada yang rancu, karena usia mereka sebenarnya terpaut sangat jauh. Berdasarkan silsilah I Pue Imbatu yang dibuat oleh Abdul Muis Thahir bahwa Igunggu atau Kokomah bersama enam orang saudaranya berada pada generasi ketujuh, sedangkan I Pue Imbatu berada pada generasi ketiga belas. Ada rentang waktu yang cukup jauh.

Pada awal kedatangannya dari Tanah Suci, usianya masih tergolong muda, belum mencapai empat puluh tahun. Kedalaman pengetahuan spiritual I Pue Imbatu sekembalinya dari Mekah menyebabkan dirinya di daulat sebagai Imam di Towale hingga meninggal dunia. Beliau meninggal dunia diusia 70 tahun. Namun hingga kini, banyak orang yang meyakini bahwa beliau belum meninggal. Ia telah terlahir kembali pada raut wajah yang berbeda.
 
Sebagai seorang ulama, I Pue Imbatu memiliki cara tersendiri dalam menyebarkan Islam. Walaupun mungkin cara yang digunakannya itu telah digunakan oleh ulama-ulama lain. I Pue Imbatu mengajarkan Islam dengan cara membumi, artinya beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama seperti ilmu fiqih dan nahwu saja, melainkan juga mengajarkan ilmu perbintangan (ilmu falak), sekaligus juga mengajarkan tata cara bertani padi lahan basah (sawah). Bekas area persawahan yang pernah ditanaminya sekarang dikenal dengan Tana Ara (harfiah: Tanah Arab).

Sekembalinya dari tanah Arab (Mekah), I Pue Imbatu mulai mengajari masyarakat Towale. Ia mempunyai banyak murid di Towale dan sekitarnya. Tidak ada keterangan yang jelas mengenai jumlah pasti murid-muridnya tersebut. Namun yang pasti bahwa dari sekian banyak muridnya, I Pue Imbatu hanya memberikan ijazah kepada salah seorang murid saja untuk mengajar atau menurunakan ilmu-ilmu yang telah diajarkannya. Murid kepercayaannya itu bernama Ikoa. Muridnya itu kemudian yang menggantikannya sebagai Imam di Towale. Ikoa hanyalah seorang nelayan dengan mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan menggunakan Kalase atau serong.

Selain Ikoa, ada juga Laguliga yang diberi ilmu oleh I Pue Imbatu. Laguliga mengajar setelah Ikoa meninggal. Namun sampai sekarang belum ada informasi mengenai pergantian posisi dari Ikoa kepada Laguliga sebagai Guru Mangaji di Towale. Seorang guru mangaji tidak hanya mengajarkan cara membaca Alqur’an dengan baik, tetapi juga ilmu-ilmu lain, khususnya ilmu tasawuf. Menurut Nor Huda bahwa tasawuf berkembang sejak awal kelahiran Islam. Selanjutnya tasawuf berkembang, para sufi menaruh perhatian pada (1) jiwa, yaitu tasawuf yang membicarakan pada pengobatan dan pengosentrasian jiwa manusia kepada manusia, sehingga ketegangan-ketegangan jiwa dapat diobati; (b) akhlak, yaitu tasawuf yang berisi teori-teori akhlak, akhlak baik dan menghindari akhlak buruk; dan (3) metafisika, yaitu tasawuf yang menitikberatkan pada kemutlakan Tuhan. Namun dunia sufisme pada masa I Pue Imbatu, yakni sufisme yang telah menggabungkan antara tasawuf dan syariat. Penggabungan ini dilakukan oleh Imam Al-Ghazali lewat kitabnya Ihya’ ‘Ulum al-Din.

Generasi berikutnya juga tetap mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu yang diturunkan I Pue Imbatu tersebut. Pada akhir abad ke 19, ada dua tokoh penting yang mengajarkan ilmu-ilmu tersebut, yakni Ambo Eca dan Madusia. Keduanya adalah sepasang suami isteri yang terus mengajari masyarakat Towale hingga akhir hayat mereka. Mereka menyediakan rumahnya yang tidak jauh dari masjid Towale sebagai tempat belajar murid-muridnya yang hendak belajar membaca Qur’an dan belajar ilmu falak, fiqih dan ilmu tauhid. Tidak lupa diajarkan sejarah Islam. Ada tiga puluhan orang murid–dari berbagai usia–yang datang menuntut ilmu di rumah itu. Salah seorang murid Ambo Eca atau yang biasa dipanggil Pua Camba dan Madusia adalah Abdul Muis Thahir. Beliau merupakan murid termuda pada periode terakhir pembelajaran di rumah Pua Camba tersebut.

Sejak Ikoa menggantikan I Pue Imbatu, Ilmu Tauhid menjadi satu pokok pembelajaran mereka. Saat Laguliga pun demikian. Begitu pula ketika Pua Camba mengajar. Olehnya itu hingga kini ajaran-ajaran I Pue Imbatu masih tetap berkembang dan menjadi “pegangan” masyarakat Towale.

I Pue Imbatu selalu menyatakan bahwa “jangan menyuruh dan jangan disuruh” dalam hal berbuat kebajikan. Penjelasannya adalah bahwa sebagai manusia biasa, seseorang memiliki rasa malas. Apabila sering memerintah orang maka itu tandanya dalam diri kita ada rasa malas. Apalagi kalau harus diperintah barulah bergerak atau berbuat untuk kebaikan, maka itu tanda nyata bahwa dalam diri kita itu malas. Malas adalah pangkal kemiskinan dan kemiskinan sangat mendekatkan seseorang pada kekufuran.

Beliau juga mengajarkan sebuah konsep yang berbunyi, “tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, dan tujuh lapis manusia.” Ini sebuah pernyataan menarik, tetapi tidak ditemukan penjelasan yang memuaskan. Pernyataan seperti itu mengingatkan saya pada konsep tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dalam tradisi sufisme Thariqat Qadiriyah, tharikat yang disandarkan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani. Hubungan I Pue Imbatu dengan Tharikat Qadiriyah belum dapat dijelaskan.

Setelah membaca penjelasan panjang di atas, sebuah pandangan dapat diambil lebih jauh. Pada awalnya, ajaran I Pue Imbatu masih sebatas pada persoalan syariat. Namun lama-kelamaan, terjadi perubahan yang cukup mendasar dalam hal ajaran, terutama ketika I Pue Imbatu meninggal dunia. Para penggantinya, mulai menitikberatkan pada persoalan Tauhid. Ilmu Tasawuf pun dikembangkan, sehingga Islam dipahami secara ideologis. Syariat tidak pernah dilupakan, artinya sebagai bagian penting dari pembelajaran masyarakat Islam di Towale. Walaupun begitu, aspek-aspek mitologis dari ulama ini tetap dipertahankan hingga kini. Akhirnya, sosok I Pue Imbatu tidak seperti manusia biasa lagi. Padahal beliau berkubur di Desa Limboro. Dengan perspektif sempit seperti itu, kuburannya tetap dikeramatkan tetapi sosoknya menjadi misterius. (bersambung)


*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.