Sunday, 19 November, 2017 - 09:13

Ajaran Mappideceng Haji Ahmad Lagong

ILUSTRASI - Alquran yang ditulis dengan tinta emas. (Foto : Google image)

KARIR dakwah di Kalukubula, berhasil dibangun setelah terlebih dahulu menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal miliknya bersama lima orang awak kapal yang sama-sama berasal dari Wajo. Di Makkah, Ahmad Lagong membeli Alquran berukuran 40 cm X 30 cm, ditulis dengan tinta emas dengan tulisan khat naskhi. Alquran tersebut memberikan semangat para santri atau anak-anak mengaji, bahwa pedoman Islam betul-betul berasal dari Tanah Suci Makkah, tempat kelahiran dan tempat tinggal Nabi Muhammad SAW. Ketenaran mushaf tersebut terkenal dengan nama “Koralompu”.

Koralumpu artinya Alquran besar. Disebut Alquran besar, karena orang Bugis menyebut ada Alquran kecil atau “korabiccu”. Penamaan dua istilah tersebut sebenarnya tertumpu pada metode pembelajaran Alquran. Bermula dari pengajian alefu yang dimaksud adalah Metode Bagdadiyah, yang di dalamnya adalah Juz Amma, sebagai aplikasi kemampuan membaca aksara Arab.

Jadi, bagi orang Bugis, Juz Amma disebut Korabiccu. Sedangkan Alquran yang berisi 30 juz disebut Koralompu. Itulah sebabnya, bagi orang Kaili, membaca ayat sesudah membaca Al-Fatihah sewaktu salat, bilamana yang dibaca itulah isi Juz Amma disebut membaca ayat. Bilamana membaca beberapa ayat pada surah-surah tertentu disebutnya membaca surah.

Koralompu di Kalukubula menandai adanya pengembangan pendidikan Islam. Alquran yang berisi 30 juz, diperkenalkan oleh Haji Ahmad Lagong untuk meningkatkan pemahaman ajaran Islam. Para peserta pengajian yang memang sudah berlangsung dari generasi ke generasi, terbukti ketika Sayyid Idrus bin Salim Aldjufri menjadikan Kalukubula sebagai persinggahan dalam perjalanan dakwahnya ke arah Selatan Lembah Palu. Rumah Wakaf yang kini berdiri kokoh di Kalukubula menunjukkan adanya perisai pengembangan ajaran Islam yang berlangsung dai masa ke masa. Ditambah lagi kehadiran Universitas Alkhairaat Kampus II Kalukubula, semakin menambah hasrat untuk melihat dinamika pendidikan Islam di Kalukubula.

Kedatangan Haji Ahmad Lagong di Kalukubula pada mulanya hanyalah urusan berdagang, menawarkan barang-barang dagangan bersama lima orang pendampingnya yang semenjak dalam pelayaran. Haji Ahmad Lagong sempat memperhatikan keadaan masyarakat di Kalukubula yang terdiri atas tiga tingkatan. Pertama, tingkatan kaum bangsawan sebagai pemegang otoritas pelaksana adat yang mengutamakan pada pihak wanita daripada pihak pria. Kedua, tingkatan kaum pemangku adat. Ketiga, tingkatan masyarakat biasa. Pelaksanaan adat sangat ketat, apabila seseorang telah divonis mati, bentuk eksekusinya adalah dengan cara dicincang, dalam bahasa Kaili disebut nisasa. Ahmad Lagong dalam melihat eksekusi tidak sesuai dengan ajaran Islam, bukan langsung ditegur, tapi ia melakukan pendekatan yaitu menawarkan sejumlah pembayaran untuk tidak mencincang orang tersebut. Kemudian para petinggi adat menerima tawaran sejumlah pembayaran untuk tidak melaksanakan eksekusi mati.

Hal tersebut pernah dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, yakni memberikan tebusan sejumlah pembayaran ketika melihat Bilal bin Rabah dianiaya oleh majikannya karena memeluk Islam. Sebelum kedatangan ajaran Islam, kebiasaan membeli manusia dilakukan dalam rangka kegiatan perbudakan. Budak melanggar hak asasi manusia, karena menjadikan manusia sebagai obyek perdagangan. Para pemimpin muslim berupaya menebus beberapa budak lalu dimerdekakan. (*)


*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.