Friday, 20 July, 2018 - 05:19

Apotek Diduga Salah Berikan Obat ke Pasien

PERTEMUAN – Suami pasien Kisman, dan Indah Susanti (paling kanan) foto bersama seusai menggelar pertemuan dengan pihak RSUD Tora Belo Sigi, Selasa, 10 Juli 2018. (Foto: Firmansyah/ Metrosulawesi)

Sigi, Metrosulawesi.com - Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Tora Belo Sigi menggelar pertemuan dengan keluarga pasien Rostina, Selasa 10 Juli 2018. Pertemuan itu untuk menelusuri kasus pasien Rostina yang awalnya berobat batuk, tapi justru mengalami kelumpuhan.

Pertemuan dipimpin Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Tora Belo Nurni SKM MM di ruang kerjanya didampingi dr Hania Sp PD. Hadir suami pasien bernama Kisman yang datang didampingi anak kandungnya Indah Susanti.

Kepada pihak rumah sakit, Kisman menceritakan kronologis saat dia menemani sang istri berobat ke Poli Klinik Penyakit Dalam ke pihak RSUD Tora Belo, pada Sabtu, 30 Juni 2018 lalu.

Saat itu, pasien bernama Rostina itu ada dua orang, Rostina T adalah istrinya beralamat di Desa Watunonju, dan Rostina W pasien yang lain beralamat di Desa Sidera.

“Waktu kami berobat itu ada dua nama Rostina. Makanya saat nama istriku dipanggil mengambil obat di apotek. Saya tegas bilang nama Rostina itu ada juga dari Sidera, apakah obat ini benar untuk istriku, perawat bilang iya sudah benar maka saya mengambil obat itu,” ungkapnya.

Kisman menambahkan, yang menjadi kekeliruan pihak RSUD Tora Belo kali ini saat memanggil nama pasien mengambil obat tidak dicantumkan alamat dan nama suami pasien. Sehingga kekhawatiran salah nama pemberian obat tidak sesuai dengan riwayat penyakit kemungkinan ada.

“Saat mengambil obat itu, saya bertanya ibu perawat ‘tunggu dulu tidak salah nanti obat ini’ menurut mereka tidak. Makanya kami tidak curiga mengambil obat itu,” terangnya lagi.

Menurutnya, setelah pertemuan kali ini pihak keluarga diminta diundang kembali ke sini. Akan tetapi, pertemuan selanjutnya pihak RSUD Tora Belo bisa menghadirkan penanggungjawab ruangan Poli Penyakit Dalam sekaligus penanggungjawab apoteknya.

Dokumentasi berkas tertanggal 30 Juli 2018 itu kemungkinan masih tertera di sana. Sehingga memudahkan keluarga pasien untuk mengetahui dengan jelas obat dikonsumsi istrinya jutru mengalami kelumpuhan.

“Kami juga menginginkan masalah ini tidak terulang kembali, cukup kejadian salah pemberian obat itu cuma terjadi dengan istrinya dan tidak ke orang lain,” terangnya lagi.

Sementara itu, Kabag TU RSUD Tora Belo Sigi, Nurni belum ingin berkomentar lebih jauh. Dia mengatakan masih akan menghubungi kembali pihak keluarga pasien Rostina karena pertemuan selanjutnya pihak RSUD akan mengumumkan hasil penelusuranya yang mengakibatkan pasien Rostina mengalami kelumpuhan. 

“Insya allah kami akan mengundang lagi pihak keluarga datang kembali ke sini,” pungkasnya. 

Penjelasan dr Hania Sp.PD

SEMENTARA itu, dr Hania Sp.PD yang merupakan dokter spesialis di Poli Klinik Penyakit Dalam RSUD Tora Belo Sigi, memberikan klarifikasi ke media ini terkait pemberitaan edisi sebelumnya. Dia dilibatkan di pemberitaan itu sebagai dokter penanggung jawab terhadap pasien batuk berobat ke rumah sakit justru mengalami kelumpuhan itu tidak benar.

dr Hania kepada Metrosulawesi, Selasa, 10 Juli 2018, mengatakan sesuai kronologi yang diceritakan pihak keluarga pasien ke media ini pada Sabtu, 30 Juni 2018, saat itu yang memeriksa pasien Rostina adalah dokter lain yakni dr Eva.

“Dokter penanggung jawab saat itu memeriksa Ibu Rostina bukan saya, tetapi yang periksa itu dr Eva. Saya pun hari itu tidak memberikan resep obat ke pasien ini,” ungkapnya ditemui di RSUD Tora Belo.

Dia mengatakan, hanya saja pasien Rostina itu memang sering berobat ke Poli Klinik Penyakit Dalam dan pernah pula ditanganinya. Menurutnya, saat pasien Rostina dirujuk ke RSUD Undata Palu, pada Jumat, 6 Juli 2018, baru dia yang mengarahkan pasien tersebut dirujuk kesana. Alasan merujuk ke RSUD Undata itu diakibatkan riwayat penyakit pasien. RSUD Undata paling tepat melakukan penanganan pertama terhadap pasien.

 

Editor: Syamsu Rizal