Sunday, 19 November, 2017 - 15:02

Christo Mondolu, Si Jago yang Pernah Hilang

Christo Mondolu. (Foto : Ist)

PROFIL
  • Nama: Christo Mondolu
  • TTL: Palu, 20 Mei 1982
  • Pekerjaan: Wiraswasta
  • Status: Atlet
  • Alamat: BTN Bumi Anggur Blok C No. 09 Palu
  • Data Prestasi: (1) Kejurnas Piala APKASI, Kutai Kartanegara 2003 [Kumite-80 Kg, medali emas] (2) Malaysia Open, Kuala Lumpur 2003 [Kumite-80 Kg, medali emas] (3) SEA Games XXII, Vietnam 2003 [Kumite-80 Kg, medali perunggu] (4) PON XVI, Palembang 2004 [Kumite-80 Kg, medali perak] (5) Seleksi Nasional, Jakarta 2004 [Kumite-75 Kg, juara I] (6) SEA Games XXIII, Cebu Filiphina 2005 [Kumite-75 Kg, medali emas] (7) SEA Games XXIII, Cebu Filiphina 2005 [Kumite Beregu, medali emas] (8) Piala KASAD VIII, Medan 2006 [Kumite-75 Kg, medali emas] (9) Kejurnas Pre PON XVIII, Solo 2007 [Kumite-75 Kg, medali emas] (10) Kejurnas PRA PON XVIII, Solo 2007 [Kelas Bebas, medali perak] (11) SEA Games XXIV, Thailand 2007 [Kumite-75 Kg, medali perak] (12) SEA Games, Thailand 2007 [Kumite Beregu, medali perunggu] (13) Austria Open, Austria 2007 [Kumite-75 Kg, medali perunggu] (14) Austria Open, Austria 2007 [Kumite Beregu, medali perak] (15) PON XVII, Kaltim 2008 [Kumite-75 Kg, medali emas] (16) PON XVII, Kaltim 2008 [Kelas Bebas, medali perak] (17) PON XVII, Kaltim 2008 [Kumite Beregu, medali perak] (18) Seleksi Nasional, Jakarta 2010 [Kumite-75 Kg, juara I] (19) 1st Asia Pacific Hayashi-Ha Shito Ryu, Jakarta 2010 [Kumite-75 Kg, medali emas] (20) 2nd Indonesia Open, Bali 2010 [Kelas Bebas, medali perak] (21) Swedish Open, Swedia 2011 [Kumite-75 Kg, medali perunggu] (22) Swedish Open, Swedia 2011 [Kumite Beregu, medali perunggu] (23) 3rd Indonesia Open, Jakarta 2011 [Kumite-75 Kg, medali emas] (24) 3rd Indonesia Open, Jakarta 2011 [Kumite Beregu, medali emas (25) SEA Games XXVI, Jakarta 2011 [Kumite-75 Kg, medali perunggu] (26) SEA Games XXVI, Jakarta 2011 [Kumite Beregu, medali emas] (27) Bakrie Cup, Bandung 2012 [Kumite-75 Kg, medali emas] (28) Islamic Solidarity Games, Palembang 2013 [Kumite Beregu, medali perunggu] (29) SEA Games XXVII, Myanmar 2013 [Kumite-75 Kg, medali perak] (30) SEA Games XXVII, Myanmar 2013 [Kumite Beregu, medali perunggu].

“Yang buat orang juara bukan hanya skill atau teknik, tapi mental. Membentuk mental atlet itu sulit, berhubungan dengan ketabahan dan rasa hormat,” - Christo Mondolu -

PRESTASINYA tidak perlu dipertanyakan lagi, dia sudah menyabet begitu banyak medali di berbagai kejuaraan karate. Dari kejuaraan lokal, Kejurnas, PON, SEA Games, hingga Kejuaraan Internasional pernah dicapainya. Namanya di dunia karate Tanah Air sudah menyebar bak wangi mawar. Christo Mondolu sudah meraih capaian yang sangat luar biasa di dunia karate. Ia merupakan atlet karate kebanggan Sulawesi Tengah. Meskipun saat ini ia sudah tidak lagi membela Sulteng sebagai atlet, namun ia tetap memiliki keinginan besar mengharumkan nama Sulteng melalui cabor karate dengan menjadi pelatih di daerah tersebut.

Karate sudah menjadikan Christo Mondolu sebagai salah satu putra daerah yang namanya dikenal oleh banyak orang. Namanya mulai dikenal ketika menjuarai Kejurnas Piala Apkasi Kutai Kartanegara pada 2003 silam, ia berhasil menyabet emas di kelas Kumite -80kg waktu itu. Pelan tapi pasti, Christo kembali mengharumkan nama Sulawesi Tengah pada iven Malaysia Open Kuala Lumpur di tahun yang sama. Ia memboyong emas di kelas kumite -80kg di Negri Jiran.

Di tahun-tahun berikutnya, Christo terus mencatatkan raihan prestasi gemilang di berbagai kejuaraan karate, hingga ia banyak dilirik oleh daerah lain. Dengan bujukan menjanjikan akhirnya DKI Jakarta berhasil meminangnya pada 2006 silam. Christo memilih membela DKI Jakarta pada Pekan Olahraga Nasional (PON)  2008, tidak tanggung-tanggung, ia berhasil menyumbang tiga medali untuk Ibukota dengan satu emas dan dua medali perak dari tiga kelas berbeda yang diikutinya.

Meninggalkan daerahnya demi kelayakan hidup yang lebih baik di dunia olahraga kemudian tidak menjadikan ‘Si Jago’ kelahiran Palu, 20 Mei 1982 itu seperti kacang lupa akan kulitnya. Christo memilih untuk kembali ke daerahnya pada 2013 lalu. Ia merasa memiliki utang untuk daerah ini, sehingga ia memilih untuk kembali ke Sulteng demi memajukan dunia olahraga, khususnya di cabang olahraga karate.

Meskipun pernah meninggalkan Sulteng untuk membela provinsi lain di kejuaraan karate, kini Christo telah kembali, Si Jago yang pernah hilang kini kembali untuk berbagi jurus kepada atlet-atlet karate Sulteng.

“Saya punya utang dengan Sulteng, makanya saya harus berbuat untuk Sulteng. Meskipun saya sudah tidak bisa jadi atlet Sulteng paling tidak saya jadi pelatih untuk mengembangkan atlet karate kita,” ungkap Christo.

Ya, Christo memang sudah tidak bisa membela Sulteng di kejuaraan karate karena terikat kontrak dengan DKI Jakarta. Jika ingin membela Sulteng, Christo harus menebus klausul kontrak yang jumlahnya cukup besar.

“Tapi saya bisa jadi pelatih di sini, olehnya saya harus berbuat untuk daerah ini dengan melatih para atlet karate,” katanya.

Bahkan saat ini Christo mulai melatih atlet-atlet cilik. Ia melatih anak usia dini dengan harapan dapat melahirkan atlet karate yang bisa membanggakan daerah suatu saat nanti.

Saat ditemui Metrosulawesi, Jumat 18 November 2016 sore lalu, Christo tampak tengah melatih sejumlah anak di gedung olahraga Siranindi Palu. Ia tampak bersemangat melatih anak-anak calon atlet karate yang diharap akan membanggakan daerah ini melalui dunia olahraga.

Anak-anak itu juga tampak senang dan bersemangat menerima pelajaran gerakan dan jurus-jurus karate yang diajarkan simpae berusia 34 tahun itu.

Kata dia, untuk melahirkan atlet bukan hanya soal skil atau teknik atlet, tetapi juga mental yang harus dibangun sejak dini.

“Yang buat orang juara bukan hanya skill atau teknik, tapi mental. Membentuk mental atlet itu sulit, berhubungan dengan ketabahan dan rasa hormat,” jelasnya.

Sehingga katanya, sangat penting untuk melatih anak sejak dini jika ingin menjadi atlet berprestasi.

Namun hal itu juga harus didukung oleh fasilitas memadai, dimana yang bertanggung jawab atas hal tersebut adalah Pemerintah Daerah melalui KONI sebagai lembaga yang dipercaya untuk mengatur dan mendorong berkembangnya olahraga di daerah tersebut.

“Sulteng punya potensi juara, bukan cuman karate. Saya pernah wakili DKI, saya dilayani dengan sangat luar biasa di sana, saya kembali ke Sulteng saya tidak tuntut itu, tapi saya harap atlet diperhatikan,” katanya.

Bapak satu anak itu sendiri sudah diperkenalkan dengan bela diri karate sejak usia 10 tahun, ia dilatih di perguruan Inkai oleh seorang simpae bernama Fredy Lumeno, yang juga mengantarkan Christo menjuarai berbagai kejuaraan karate.

Christo juga berbagi tips untuk menjadi atlet berprestasi di dunia olahraga, “Kalau mau jadi juara menurut saya harus "Gila" dalam bidang olahraga. Harus punya determinasi, harus selalu punya semangat, dan tentunya dukungan oleh keluarga juga,” jelas dia.

“Di karate bukan cuman beladiri, tapi bagaimana membangun rasa hormat, sopan dan bisa berprestasi,” sebut Pelatih yang juga Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Forki Sulteng itu.

 
Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.