Thursday, 29 June, 2017 - 15:29

Divonis Bebas Setelah Disiksa dan Dipenjara 8 Bulan

DIVONIS BEBAS - Nofal, pemuda yang sempat dipenjara karena kasus pencurian. Dia divonis bebas karena dakwaan yang dituduhkan tidak terbukti. (Foto : Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)

Kisah Nofal Pemuda Sigi Yang Dituduh Mencuri

NOFAL sulit melupakan penderitaan pada malam penyiksaan di kantor polisi. Sempat kehilangan penglihatan pada mata kanan. Betisnya bengkak dan tak mampu berdiri apalagi berjalan.

Tapi Nofal berumur panjang. Ajal belum menjemputnya seperti yang dialami almarhum Sutrisno alias Lahido, tahanan  Polres Sigi yang tewas Februari 2017. Apa yang dialami Nofal mirip dengan mahasiswa Fakultas Kedokteran Untad Palu yang mengalami luka serius setelah ditangkap di Polres Palu, Oktober 2016.

Kepada Metrosulawesi Sabtu 10 Juni 2017 di Palu, Nofal menceritakan peristiwa yang tak hanya membuat sekujur tubuhnya terluka, tapi juga jeritan hatinya. Malam itu tulang punggung keluarga miskin ini merasakan tulang belakangnya seperti remuk.

Dia menceritakan, awal November 2016 malam, Nofal dijemput polisi bersama ketua RT. Saat itu dia sedang berada di rumah tetangganya di Desa Balongga Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Buruh bangunan yang hanya tamat sekolah dasar itu tak tahu mengapa dia dijemput polisi. Tak ada juga selembar surat pun diperlihatkan.

Namun dia menurut saja pada polisi yang menjemputnya. Pemuda 29 tahun itu kemudian dibawa ke Polsek Dolo. Selama perjalanan, dia bertanya apa kesalahannya. Tapi, polisi memintanya agar memberikan keterangan di Polsek Dolo.

Nofal dituduh pelaku pencurian di SMP 26 Sigi yang terjadi pada 15 Juni 2016 atau sekitar lima bulan sebelum penangkapan itu. Ada barang di sekolah itu hilang dan Nofal dituduh terlibat dalam pencurian itu.

Di Polsek Dolo, Nofal diinterogasi di sebuah ruangan. Ditanya soal kasus pencurian di sekolah yang tak jauh dari rumah tempat tinggalnya di Desa Balongga. Nofal tak mengaku.

“Saya tidak mencuri apa-apa pak,” kata Nofal kepada Metrosulawesi.

Tapi, oknum polisi malam itu terus menginterogasinya. Tetap saja Nofal tak mengaku. Sejurus kemudian, pukulan mendarat di wajah Nofal. Disusul rotan menghantam punggung dan betis. Nofal tetap juga tak mengaku.

“Saya tidak mencuri pak,” jawaban itu berkali-kali Nofal katakan pada oknum polisi yang memeriksanya.

Sampai dini hari, Nofal tak juga mengaku sebagai pelaku. Nofal sampai menangis di hadapan polisi. Tapi, dia diminta agar mengakui perbuatannya. Dalam kondisi yang tertekan, Nofal lupa berapa jam diperiksa malam itu. Namun dia memperkirakan sekitar tiga jam.

“Saya sudah loyo dipukuli terus,” ujarnya mencoba mengingat peristiwa kelam dalam hidupnya.

Karena belum mengaku, interogasi dilanjutkan pagi. Bergantian polisi datang dan bertanya. Tapi Nofal masih tetap kukuh bahwa dia tak melakukan pencurian. Perlakuan pada malam sebelumnya kembali terulang di pagi itu. Kali ini pemuda yang tak pernah berurusan dengan polisi ini tak kuat lagi bertahan. Dia tak ingat lagi berapa orang yang datang dan bertanya soal kasus pencurian itu.

“Akhirnya saya pasrah. Saya iyakan semua yang ditanyakan polisi,” ujarnya.

Selama kejadian itu, mata sebelah kanan sempat tak bisa melihat. Tulang keringnya juga bengkak akibat rotan. Nofal yang tak didampingi penasihat hukum ketika itu terpaksa menuruti semua keinginan oknum polisi di Polsek Dolo ketika diperlihatkan barang bukti.

"Itu bekas rotan. Saya tidak tahu ada berapa yang memukul. Saya dipukul pakai tangan, pakai rotan, pakai sandal," kata Nofal memperlihatkan bekas luka di tulang kerinya yang sudah tak normal lagi.

Sampai saat ini, sedikit saja betisnya berbenturan dengan benda keras akan terasa sangat sakit. Begitu juga dadanya yang kerap muncul rasa nyeri. Tidurnya pun tak nyenyak.

“Tidur malam hanya dua jam terbangun lagi. Nanti duduk dulu kemudian tidur lagi, tapi terbangun lagi,” katanya.

Dia masih ingat wajah dan nama beberapa oknum polisi yang telah memukulnya di Polsek Dolo.

"Saya tahu namanya setelah beberapa hari di tahanan Polsek Dolo," ujarnya.

Tiga hari ditahan di Polsek Dolo, Nofal dibesuk ibunya. Ibunya tinggal sendiri di rumah. Berjualan nasi kuning dan kue di pinggir jalan di desanya. Selama ini Nofal yang buruh bangunan menjadi tulang punggung dalam keluarga, membeli beras dan segala kebutuhan untuk menyambung hidup bersama ibunya.

Tapi, Nofal pasrah berpisah dengan ibunya untuk menjalani proses hukum di Polsek Dolo. Selama tujuh hari ditahan di Polsek Dolo sebelum akhirnya dipindahkan ke Polres Sigi.

Selama dua bulan jadi tahanan di kantor polisi, selama itu pula jiwanya memberontak. Di Polres Sigi tak ada perlakuan seperti di Polsek Dolo. Tapi, dia tak habis pikir mengapa dia harus ditahan atas perbuatan yang tak pernah dilakukannya.

3 Januari 2017, Nofal kemudian dipindahkan ke Rutan Donggala. Kasusnya berlanjut hingga ke Kejaksaan Negeri Donggala sampai akhirnya ke Pengadilan Negeri Donggala. Kalau di Polsek Nofal terpaksa mengaku mencuri karena ditekan, tapi di persidangan kepada hakim dia justru membantah semua.

“Saya divonis dua tahun enam bulan penjara di Pengadilan Negeri Donggala. Selama sidang saya tidak pernah mengaku mencuri karena saya memang bukan pencuri,” kata Nofal.

Tapi, palu hakim sudah diketuk. Hari-hari yang panjang pun harus dilalui dalam Rutan Donggala. Bukan hanya vonis 2 tahun enam bulan penjara yang disesali, tapi perlakuan oknum polisi di Polsek Dolo yang membuatnya dendam.

“Kenapa saya harus menjalani hukuman sementara saya bukan pencuri. Dua tahun enam bulan itu bukan waktu yang singkat. Di penjara hanya dinding dan langit. Saya menangis dalam penjara. Waktu itu saya tidak takut mati lagi,” ujarnya.

Nofal pun menjalani Ramadan tahun ini di dalam Rutan. Meski badannya dipenjara tapi hayalannya jauh menembus dinding penjara, membayangkan ramadan bersama keluarga di kampungnya. Tapi peristiwa yang dialaminya juga membawa hikmah. Dia menjadi rajin salat dan berpuasa.

“Nanti di Rutan itu saya rajin salat. Kalau saya salat, saya menangis. Di situ hati saya jadi tenang. Kadang muncul rasa dendam tapi kalau sudah salat, tenang lagi, saya pasrah," ucap Noval.

Selama 13 hari fokus menjalani Ramadan di dalam Rutan, akhirnya datang kabar baik. Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah membebaskan Nofal dari tuduhan pencurian. Sejak berada di dalam rutan, keluarganya mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah atas vonis dua tahun enam bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Donggala.

Jumat 10 Juni 2017, Nofal akhirnya keluar dari Rutan Donggala setelah selama delapan bulan menjalani hari-hari yang panjang di balik jeruji, termasuk merasakan 13 hari Ramadan. Dia bersyukur, doanya dalam salat dikabulkan dan kini bisa tarawih bersama keluarganya di kampungnya di Desa Balongga Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi.

Dia berharap peristiwa yang dialaminya ini tidak terjadi pada orang lain. Dia juga menuntut agar oknum polisi yang melakukan penganiayaan di kantor Polsek Dolo diusut dan diproses secara hukum.

Nofal dan keluarganya berencana melaporkan kasus penganiaan ke Propam Polda Sulawesi Tengah dan Mabes Polri. Dia juga meminta nama baiknya dipulihkan agar masyarakat di kampungnya tak memandangnya sebagai pelaku kejahatan. Kali ini Nofal tak lagi sendiri, dia ingin didampigi penasihat hukum.

Kapolres Sigi AKBP Agung Kurniawan yang dikonfirmasi melalui ponselnya belum memberikan pernyataan.

“Nanti saya cek dulu,” katanya singkat.

Sementara Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hari Suprapto yang dihubungi sampai pukul 20.00 Wita belum berhasil.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.