Tuesday, 18 September, 2018 - 23:45

Fraksi Nasdem Tunggu Sikap Resmi Pemprov Soal Tambang Emas di Dongidongi

DEMO TAMBANG - Massa penambang asal Dongidongi saat berunjukrasa di kantor DPRD Sulteng baru-baru ini. (Foto : Dok Metrosulawesi/Eddy)

Palu, Metrosulawesi.com - Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrasi (Nasdem), Muh. Masykur mengatakan, terkait nasib Tambang Desa Dongidongi, tentunya pemerintah tegas melakukan tindakan guna penyelesaian secara persuasif tanpa harus mengorbankan salah satu pihak yang terkait dalam sengketa tambang tersebut.

"Berdasarkan Respon Masyarakat Desa Dongidongi terkait dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) oleh Bupati Poso. pihaknya telah melakukan pertemuan yang dihadiri beberapa pemerintah terkait. Yakni, perwakilan dari Pemerintah Provinsi Sulteng, DPRD Sulteng, dan perwakilan dari masyarakat desa Dongi-dongi. Pada pertemuan itu disepakati bahwa masyarakat meminta waktu satu minggu untuk mengevakuasi alat-alat mereka yang berada di wilayah tambang untuk diturunkan dari wilayah tersebut,” ucap Maskur saat ditemui di DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Jum’at 11 Maret.

Masykur menambahkan saat ini pihaknya masih tengah menunggu sikap resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi dalam hal ini Gubernur Sulawesi tengah. Karena merujuk dari perjanjian yang telah disepakati selama satu minggu. Dan tepat pada hari  Jum’at (11/3) perjanjian tersebut telah tiba waktunya untuk menunggu respon tersebut.

“Hari ini sebenarnya kita menunggu bagaimana sikap resmi pemprov,” ungkapnya.

Lebih jauh, Masykur mengatakan bertepatan dengan pertemuan yang telah dilaksanakan, juga telah disepakati untuk pembentukan Tim Multi Pihak guna merespon Pro/Kontra yang terjadi setelah dikeluarkanya respon resmi dari Pemprov. Hal ini guna menindak lanjuti pembentukan Tim Multi Pihak yang telah disepakati, dan tim tesebut akan diisi masing-masing perwakilan dari Pemerintah Provinsi, DPRD Prov Sulateng, Perwakilan Warga Masyrakat setempat serta Aparat Keamanan dan Perwakilan dari Tokoh Masyarakat yang dianggap penting terlibat dalam mencari solusi terkait dengan Pro/Kontra penambangan di Desa Dongidongi.

”Saat ini kami tengah menunggu putusan dari Pimpinan, siapa saja yang dipilih dan diutus untuk duduk di tim multi pihak yang telah dibentuk,” katanya.

Terpisah, Bupati Poso Sulawesi Tengah mengharapkan para penambang emas di Dongi-dongi, Kecamatan Lore Utara, yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), segera mengosongkan lokasi tersebut dengan kesadaran sendiri sehingga tidak perlu upaya paksa.

"Pemkab Poso tetap berkomitmen dan bertanggungjawab mengamankan lokasi penambangan karena wilayah itu adalah kawasan lindung milik negara bahkan milik dunia yang harus dijaga eksistensinya," kata Bupati Poso Darmin Sigilipu kepada Antara yang menghubunginya di Poso, Kamis 10 Maret.

Ia menjelaskan bahwa pihak pemda sudah melakukan upaya-uaya persuasif untuk mengatasi kegiatan penambangan ilegal di Dongi-dongi melalui musyawarah mulai dari tingkat RT/RW, desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi.

"Kami juga sudah melaporkan hal ini ke pemerintah provinsi dan sedang menunggu keputusan untuk menjadi patikan kita melakukan langkah-langkah penertiban selanjutnya. Mudah-mudahan segera ada hasil (keputusan pemprov)," ujarnya.

Ia mengakui bahwa Pemkab Poso sebenarnya sudah memberikan ultimatum agar para penambang meninggalkan lokasi tersebut pada Jumat (4/3), namun karena masalah ini sedang dibicarakan di pemerintah provinsi, maka kita menunggu keputusan pemprov dulu, langkah apa yang terbaik harus kita tempuh.

"Kalau pun nantinya harus ada pelibatan aparat keamanan untuk menyelesaikan masalah penambangan ilegal itu, maka semuanya akan kita laksanakan secara terukur," ujarnya.

Darmin yang dilantik menjadi Bupati Poso pada 17 Februari itu menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan kompensasi kepada para penambang untuk meninggalkan lokasi tersebut, karena kawasna itu bukan milik pribadi mereka tetapi milik negara bahkan dunia dan mereka datang ke situ tanpa izin.

Penambangan emas di wilayah Dongi-Dongi baru berlangsung beberapa bulan terakhir, namun jumlah penambang meningkat sangat pesat karena bederanya khabar bahwa potensi emas di kawasan itu sangat tinggi sehingga setiap hari penambang bisa mendapatkan lima sampai 10 gram emas.

"Penambang di sana mendapat emas bukan ukuran gram tapi ons," ujar Joni Soko yang baru beberapa pekan menambang emas di Dongi-dongi.

Penambangan emas di kawasan itu dilakukan dengan cara menggali tanah untuk mengambil bebatuan yang mengandung emas (rap) lalu mengolahkan di kawasna penambangan emas tradisional Kelurahan Petobo Kota Palu, berjarak sekitar 100 kilometer dari lokasi penambangan.

Informasi yang dihimpun Antara menyebutkan ada sekitar 1.000 orang penambang yang kini sedang mencari rejeki di wilayah itu dengan tanpa izin. Luas areal penambangan sudah mencapai sekitar empat hektare.

Bila penambangan ini tidak dikendalikan, maka kawasan hutan yang terdampak akan semakin luas dan potensi konflik sosial semakin besar. (yat/ant)
 

Editor : Udin Salim