Tuesday, 22 August, 2017 - 06:01

HIPMI-Pemprov Kerjasama Bangun Sulteng Lewat Pariwisata

TEKEN KONTRAK - Ketua BPD HIPMI Sulteng Astrid Noviti Sandagang menandatangani kontrak kerjasama antar pihaknya dan pemerintah daerah terkait upaya promosi wisata di Sulawesi Tengah, Sabtu 18 Maret 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang angkanya tertinggi secara nasional memang belum berdampak signifikan ke masyarakat, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 9,98 persen pada 2016 lalu masih lebih dinikmati oleh pemilik modal. Jika ingin pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang lebih multiple effect, salah satu sektor yang perluh dikembangkan adalah sektor pariwisata.

Hal ini diungkap pada Coffee Morning yang digelar Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD Hipmi) Sulawesi Tengah di Warkop Aweng Komodo, Kota Palu, Sabtu 18 Maret 2017. Kegiatan itu dihadiri oleh sejumlah instansi pemerintahan terkait.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengakui pertumbuhan ekonomi daerah ini masih lebih dinikmati oleh investor. Pasalanya, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah masih ditopang oleh sektor tambang dan pengolahan nikel, di mana sektor ini masih lebih menguntungkan pihak pemodal dibandingkan serapan langsung masyarakat di level bawah.

“Pertumbuhan ekonomi kita memang masih dinikmati pemodal luar (asing) di sektor tambang. Olehnya sektor pariwisata perlu dijadikan industri agar dampak pertumbuhan ekonomi kita bisa lebih merata,” ungkap Asisten II Provinsi Sulawesi Tengah Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesra Bunga Elim Somba saat mewakili Gubernur Longki Djanggola dalam diskusi bersama para pengusaha muda itu.

Dengan luasan wilayah Sulawesi Tengah yang hampir pertiga luas Pulau Sulawesi, dianggap sebagai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan pariwisatanya. Apalagi di daerah ini kaya akan kearifan lokal, destinasi dari gunung hingga ke dasar laut ada di Sulawesi Tengah. Sehingga potensi untuk dijadikan tujuan pariwisata agar meningkatkan ekonomi masyarakatnya sangat besar.

“Semuanya ada di sini, dari gunung sampai dengan terumbu karang bisa jadi tujuan wisata. Belum lagi kearifan lokal dan produk-produk unggulan yang bisa menjadi pemicu yang dapat membuat orang untuk tertarik datang ke sini. Inilah yang perlu digali,” kata dia.

Namun untuk membangun ekonomi Sulawesi Tengah melalui sektor wisata diperlukan sinergitas oleh sektor lain. Promosi wisata juga dianggap sangat penting untuk memperkenalkan daerah agar bisa jadi tujuan wisata.

Untuk mendukung percepatan di sektor wisata, pihak pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan.

“Dan di Sulteng kita juga sudah punya tata ruang untuk mengelola wisata itu,” sebutnya.

Pembangunan sumber daya manusia (SDM) juga dianggap merupakan hal paling mendasar untuk meningkatkan ekonomi di sektor pariwisata, sehingga sekolah-sekolah kejuruan yang fokus pada kepariwisataan dianggap perlu dikembangkan.

“Kami juga sudah memfasilitasi kabupaten-kota untuk fokus pada satu destinasi wisata,” ujar Elim Somba.

Melalui sektor wisata pemerintah berharap akan memberikan dampak perekonomian yang lebih merata ke masyarakat.

“Yang kita inginkan adalah bagaimana tenaga kerja itu bisa terserap,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah Ardiansyah Lamasitudju berharap seluruh pihak bisa mengambil bagian dalam upaya percepatan di sektor wisata tersebut.

Ia berharap para pengusaha mau berinvestasi untuk sektor wisata di daerah ini. Apalagi dengan potensi yang ada. Menurutnya, sudah seharusnya dilirik oleh pemilik modal berinvestasi di sektor wisata.

“Sebenarnya banyak pengusaha dari daerah kita ini yang sukses di luar daerah, nah sekarang waktunya ayo kembali ke daerah untuk berinvestasi,” ujar Ardiansyah Lamasitudju.

Pihaknya mengakui, untuk memperkenalkan destinasi wisata dibutuhkan para pelaku usaha swasta di bidang pariwisata itu sendiri.

“Karena kalau destinasi wisata ini dikelolah oleh pihak pemerintah sepertinya akan sulit untuk berkembang, dan biasanya untuk mempromosikan wisata itu lebih mudah oleh para operator (pelaku bisnis akomodasi),” sebutnya.

Menanggapi hal ini, pihak HIPMI pun memberikan gambaran serupa. Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Pariwisata Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI Bagas Adhadirga menganggap daerah ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan destinasi wisatanya.

Ia bahkan menggambarkan Kota Palu hampir mirip dengan Monaco.

“Ini Palu sangat indah, tinggal sentuhan sedikit saja bisa jadi destinasi wisata paling indah di Indonesia. Saya pertama kali melihatnya ini mirip Monaco,” kata Bagas Adhadirga.

Sebagai pengusaha muda dan pelaku bisnis, Ia memberi masukan agar daerah bisa menggarap satu destinasi wisata utama untuk menarik pengunjung dari luar daerah maupun manca negara. Dia mencontohkan Provinsi Papua Barat yang pergerakan ekonominya hanya bertumbu pada sektor wisata.

“Di Papua Barat itu kalau kita lihat tidak ada apa-apa, tapi ada satu destinasi wisata yang menjadi pusat tujuan yaitu Raja Ampat. Nah hanya melalui destinasi wisata yang satu ini perekonomian seluruh masyarakat disana bisa digerakkan,” ujarnya.

Dengan potensi yang dimiliki Sulawesi Tengah, dia meyakini bisa lebih baik lagi jika wisatanya dikelola dengan baik.

“Di Palu semuanya sudah ada, kita tinggal touch sedikit. Dengan lautnya yang tenang misalnya, kita bisa banyak melakukan hal di sini,” ujar dia.

“Turis asing itu hanya butuh WC (toilet) yang bersih saja,” kata dia.

Untuk mempromosikan wisata daerah hal yang paling penting dilakukan menurutnya adalah dengan menggelar berbagai iven.

Dalam waktu dekat sendiri pemerintah daerah, baik provinsi, kota maupun sejumlah kabupaten akan menggelar berbagai iven yang tujuannya untuk memperkenalkan daerah ini, di antaranya akan ada iven Palu Nomoni, iven Tour De Celebes Central, dan iven Festival Togean serta Festival Danau Poso.

Sulawesi Tengah sendiri tengah fokus mengembangkan destinasi wisata di dua titik, yakni di Togean Kabupaten Tojo Unauna dan Taman Nasional Lore Lindu yang masuk wilayah Kabupaten Sigi dan Poso.

“Untuk membangun destinasi wisata itu fokus pada satu destinasi saja, jika sudah dikenal yang lainnya itu pasti akan mengikut,” ujar Bagas.

Pada kegiatan bertema Promosi dan Pemasaran Pariwisata Untuk Mendorong Perttumbuhan Ekonomi Sulteng itu juga dilakukan penandatanganan kontrak kerjasama antara pihak BPD HIPMI dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.