Monday, 20 February, 2017 - 16:41

Ilmu Bagai Lentera tak Pernah Padam (Sebuah Refleksi Hari Guru Nasional 2016)

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulteng, H Abdullah Latopada. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Oleh: H. Abdullah Latopada, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulteng

JIKA Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan menjadikan dirinya sebagai orang yang mau belajar dan menuntut ilmu. Dan jika kesempatan itu diberikan kepada kita, lantas mengapa harus kita sia-siakan?

Setiap pribadi tentu menyadari akan pentingnya Ilmu dalam kehidupan. Betapa banyaknya Ayat Al-Qur’an, hadits Rasulullah, perkataan-perkataan ulama, ilmuan dan para cendikiawan yang menjelaskan baik secara tersurat maupun tersirat tentang kewajiban menuntut ilmu dan manfaat ilmu bagi kehidupan.

Kita mungkin sudah mengetahui bagaimana kebrilianan seorang Ummul Mu’minin Aisyah RA. dalam menghafal banyak hadits, kejeniusan Ali bin Abi Thalib RA hingga mendapatkan julukan gerbangnya ilmu dari Rasulullah saw. Yang kesemua ilmu yang didapatkan berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Semoga kita juga bisa meneladani sosok seorang Jabir bin Abdullah RA., sahabat Nabi yang rela berjalan selama satu bulan hanya untuk mendapatkan satu riwayat hadits saja, atau Ibnu Taimiyah yang di masa remaja menenteng papan tulis kemanapun beliau pergi. Begitu juga dengan Ibnu Al-Jauzi yang pernah membaca buku tidak kurang dari 20 ribu jilid, serta Imam Al-Jurjani yang setiap malam menulis sebanyak 90 halaman.

Namun hal itu tidaklah didapat hanya dengan duduk santai, diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang keras untuk bisa meraih semua itu. Hal yang tidak bisa kita pungkiri semua keberhasilan yang diraih oleh para sahabat nabi dan ulama-ulama terdahulu didapatkan dari keikhlasan, semangat, keteladanan serta campurtangan dari seorang Guru.

Terlebih lagi pada era sekarang ini, abad 21 bisa dikatakan sebagai abad yang kritis dalam sejarah hidup manusia. Permasalah yang timbul semakin kompleks akibat dari perkembangan zaman antara lain  krisis ekonomi global, pemanasan global, terorisme, rasisme, drug abuse, trafficking, masih rendahnya kesadaran berbudaya, kesenjangan mutu pendidikan antar kawasan  dan lain sebagainya.

Untuk menciptakan manusia yang mampu berkompetensi untuk menghadapi kemajuan zaman, diperlukan lembaga pendidikan, tempat di mana guru memainkan peranan yang sangat vital. Guru sangat berperan dalam membentuk dan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan memiliki kompetensi yang tinggi.

Yahya (2010) menambahkan tantangan guru di Abad 21 yaitu:
(1) Pendidikan yang berfokuspada character building
(2) Pendidikan yang peduliperubahaniklim
(3) Enterprenual mindset
(4) Membangun learning community
(5) Kekuatanbersaingbukanlagikepandaiantetapikreativitasdankecerdasanbertindak (hard skills- soft skills)

Pembelajaran yang kreatif dan inovatif juga menjadi penting bagi guru, sehingga dapat megembangkan seluruh potensi diri siswa, dan memunculkan keinginan bagi siswa untuk maju yang diikuti ketertarikan untuk menemukan hal-hal baru pada bidang yang diminati melalui belajar mandiri yang kuat.

Selain itu pendidikan moral, peningkatan iman dan takwa pada diri siswa juga sangat perlu, untuk itu diperlukan bimbingan pendidikan agama dari seorang guru, khususnya guru pendidikan agama di sekolah/madrasah. Kekuatan iman dan takwa yang mantap akan menjadi penangkal yang kuat dari dampak negatif globalisasi. Tanpa iman dan takwa yang kuat, manusia akan mudah terjerumus ke dalam buruknya era globalisasi. Landasan iman dan takwa yang kuat dapat dibagun di lingkungan sekolah melalui pendidikan agama. Dengan memberikan penguatan iman kepada siswa, diharapkan agar siswa dapat mengatasi permasalahan global yang berkaitan dengan iman seseorang, karena banyak sekali dampak buruk era globalisasi yang menguji kekuatan iman seseorang.

Dapat disimpulkan bahwa dalam rangka menghadapi tantangan pada abad 21 ini, setiap guru hendaknya memiliki kemampuan dan profesionalisme yang tinggi. Tantangan yang dihadapi guru pada abad 21 tidak lagi berkisar pada kemampuan akademik siswa, tetapi lebih pada pendidikan intelektual, emosional, moral dan akhlak siswa. Era globalisasi menuntut persaingan tinggi tanpa terkecuali bagi seluruh manusia. Tidak ada pilihan lain kecuali harus menghadapi abad yang seba kompleks ini. Setiap guru harus memiliki kompetensi sebagaimana yang telah diamanatkan di dalam Undang-Undang serta tuntutan zaman yang mengharuskan setiap guru untuk memilikinya.

Semoga para guru diberikan kekuatan, kesehatan dan ketabahan untuk membangun generasi bangsa yang sehat, cerdas dan berakhlakul karimah. Selamat Ulang Tahun PGRI ke-71 dan Hari Guru Nasional tahun 2016.

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan

Berita Terkait