Thursday, 20 September, 2018 - 06:55

Jurnalis Palu Kecam Brutal Polisi di Makassar

Korlap aksi demo para jurnalis Kota Palu bersama sejumlah wartawan  Kota Palu saat menuju markas Polda Sulteng. (Foto : Tahmil Burhanuddin Hasan)

Palu, Metrosulawesi.com - Aksi kekerasan polisi terhadap jurnalis di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (13/11/2014) memicu reaksi di berbagai daerah.

Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (14/11/2014) puluhan jurnalis berunjukaksi mengecam penganiayaan polisi terhadap sejumlah jurnalis yang sedang meliput.

Saat itu, jurnalis sedang meliput aksi unjuk rasa penolakan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BMM) di depan Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM).

Polisi merangsek masuk ke kampus UNM dan merusak sejumlah fasilitas di dalam institusi pendidikan itu. Polisi juga memukuli mahasiswa, merusak kendaraan, termasuk menganiaya dan merampas peralatan jurnalis yang sedang meliput.

Para jurnalis dari berbagai media lokal dan nasional di Kota Palu memprotes aksi brutal itu dan  mendatangi kantor Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah di Jalan SAM Ratulangi Palu.

Mereka mengecam aksi kekerasan yang menimpa jurnalis saat tengah melakukan pekerjaannya. Termasuk juga aksi brutal polisi yang mencoba menghentikan siaran langsung TVOne di lokasi unjuk rasa.

Koordinator aksi, Pataruddin mengatakan, aksi kekerasan terhadap jurnalis bukan kali ini terjadi melainkan sudah berulang kali.

“Pers dilindungi oleh undang undang. Jika aparat penegak hukum paham akan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, harusnya kasus di Makassar tidak perlu terjadi. Ini sudah jelas pelanggaran,” kata Pataruddin, jurnalis Indosiar yang juga Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Jumat (14/11/2014).
 
Menurutnya, polisi harusnya memberikan perlindungan bagi jurnalis yang mejalankan tugas di lapangan, apalagi ketika situasi tidak kondusif. Dalam orasinya, para jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen Kota Palu, IJTI, dan Pewarta Foto Indonesia mendesak aparat segera menangkap aparat yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis.

Pengunjuk rasa juga mengacam memboikot semua kegiatan polisi jika tidak dapat menyelesaikan masalah ini.

Sementara, upaya para jurnalis ingin bertemu Kapolda Sulteng Brigjen Pol Idham Azis tidak terpenuhi, lantaran yang bersangkutan sedang ke Poso.

Pengunjuk rasa hanya ditemui oleh Kepala Bidang Humas Polda Sulteng, Ajun Komisaris Besar Polisi Oetoro. Seusai melakukan aksinya para jurnalis membubarkan diri dengan tertib, meski dengan rasa tidak puas karena tidak bertemu Kapolda.
 

 


Editor : Syamsu Rizal

Tags: