Monday, 24 July, 2017 - 20:32

Kembangkan Islam secara Ideologis

ILUSTRASI - Belajar mengaji di surau. (Foto : Ist)

LA Iboerahima Wartabone menjalani kehidupan dalam mengembangkan ajaran Islam dengan cara pengajaran Nur Muhammad. Nur Muhammad merupakan tahapan pencapaian dari perjalanan spiritual dalam memaknai keseimbangan ajaran tauhid dengan dukungan teknologi alam semesta. Manusia yang diberi amanah mengelola alam semesta sebagai khalifah. Bilamana tidak mengetahui hal ihwal yang dikelola, dapat berdampak munculnya bahaya yang merugikan banyak pihak.

Tokoh La Iboerahima Wartabone putra Mahkota Raja Wartabone merupakan seorang ulama agama Islam di Lembah Palu dan menjadi awal mula marga Wartabone di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Membahas tokoh ini berarti kita akan menjelaskan secara mendalam apa yang telah dikembangkan oleh La Iboerahima Wartabone di Pulau Una-Una dan di Bone Tatura Palu Sulawesi Tengah dan tentu saja pengembangan agama Islam. Demikian juga dari Marga yang bernama Wartabone tentu tulisan ini akan menjelaskan secara lebih tegas keberadaan marga Wartabone yang berada di Palu Sulawesi Tengah dan bukan yang ada di Gorontalo. Namun, tentu saja sebagai marga (keluarga besar) atau big family berarti memiliki kaitan yang erat secara genealogi dengan marga Wartabone yang ada di Gorontalo. Lebih daripada itu dia lahir dan besar dalam Kawasan Teluk Tomini yang mempengaruhi sosio-politik Gorontalo pada masanya.  

Pendekatan agama Islam sebagai sebuah ideologi adalah pendekatan dakwah yang menduniakan Islam dalam diri manusia. Sebelum pengembangan agama Islam secara ideologi biasanya diperkenalkan dulu dengan cara mitologis. Mitos mempunyai sifat irrasional sedangkan mitos juga berguna dan bermanfaat sebagai suatu konsensus. Pemikirannya diarahkan pada pemikiran reseptif artinya menerima segala sesuatu sebagai kodrat. Manusia tidak mungkin dan tidak perlu mengubahnya. Ia harus menerima apa adanya. Setelah Islam ideologi maka agama Islam dilihat sebagai sebuah hal yang rasional dan subyektif. Ideologi memiliki sifat rasional dan subyektif serta berguna untuk sebuah kepentingan. Dalam ideologi mementingkan metodologi yang diarahkan pada hal-hal yang normatif. Ideologi juga mengajarkan cara berpikir yang tertutup. Selepas Islam sebagai ideologi baru masuk kepada pengembangan Islam Ilmu Pengetahuan. Periode ilmu ditandai dengan sifat yang obyektif. Metodologi ilmu pengetahuan mementingkan yang faktual. Dalam ilmu diajarkan tentang cara berpikir yang terbuka.

Menurut pandangan umum bahwa proses pengislaman di Nusantara terjadi karena dua hal yakni penduduk Pribumi yang berhubungan dengan dunia luar kemudian mengenal Agama Islam kemudian menganutnya dan orang-orang asing Asia (Arab, India, Cina dan Melayu) yang telah menganut agama Islam datang menetap ke wilayah-wilayah di Nusantara dan melakukan kawin campuran sehingga menganut agama Islam yang dibawah oleh orang asing tersebut. Namun yang pasti Agama Islam telah mengantarkan masyarakat lokal menjadi masyarakat modern atau masyarakat yang telah berpikir rasional karena sebelumnya mereka pikiran mereka dipengaruhi oleh pemikiran mitologis.

Tulisan ini telah menjelaskan latar belakang La Iboerahima Wartabone yang berasal dari Bone Suwawa Gorontalo hingga mengembangkan Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Tulisan ini akan menguraikan perjalanan La Iboerahima Wartabone dari Bone Suwawa Gorontalo-Una-Una-Bugis-Palu. Kemudian sub judul “Dengan Islam Berakhir di Kampung Potoya Sigi Sulawesi Tengah” karena beliau kemudian meninggal di Potoya Sigi Sulawesi Tengah sebagai seorang ulama Islam bukan sebagai seorang Putra Mahkota Kerajaan Bone Suwawa di Gorontalo karena dia meninggalkan kerajaannya hanya untuk Agama Islam. Dia mengembangkan agama Islam secara ideologis supaya agama Islam tertanam dalam diri manusia penganutnya di Lembah Palu Sulawesi Tengah.

La Iboerahima Wartabone adalah seorang anak pertama Raja Wartabone dari Gorontalo sebagai seorang putra mahkota yang meninggalkan Kerajaan Bone Suwawa karena intervensi dari Kolonial Belanda. Beliau memiliki keluarga di Gorontalo, Pulau-Una-Una dan Togean, dan juga Keluarga di Palu Sulawesi Tengah. Di Gorontalo beliau menikah dengan Nahaya di Bone atau Suwawa dan di Sulawesi Tengah beliau menikah dengan Roneama di Ujuna Palu Sulawesi Tengah. Di Ujuna Sulawesi Tengah, beliau memiliki lima orang anak yakni Lajonco, Jahiya, Habasia, Susapalu, dan Sawasia.Sementara di Gorontalo beliau memiliki tiga orang anak yakni Buna, Tangahu, dan Mitu. Mereka inilah yang menurunkan keluarga La Iboerahima Wartabone sebagai keluarga yang menggunakan marga Wartabone di Gorontalo dan di Sulawesi Tengah.

La Iboerahima Wartabone putra mahkota Raja Wartabone adalah seorang ulama pengemban Agama Islam di Palu Sulawesi Tengah pada pertengahan abad ke-19. Beliau adalah seorang ulama Islam yang mengembangkan agama Islam secara ideologis sehingga ajaran Islam dapat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya di dunia ini. Beliau adalah seorang ulama abad ke-19 yang dilupakan dan memiliki kuburan di pekuburan tua Potoya Buli, Kampung Potoya Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Ajaran Islam yang dikembangkan di Palu Sulawesi Tengah adalah ajaran Islam ideologis karena Agama Islam dikorelasikan dengan hidup dan kehidupan manusia penganutnya sehingga menjadi ideologi yang normatif. (bersambung)
   

*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.