Tuesday, 22 August, 2017 - 05:39

La Iboerahima Wartabone, Ulama Bone Tatura Palu

ILUSTRASI - Jejak Islam di Lembah Palu. (Grafis : Dok Metrosulawesi)

TOKOH Ulama Palu La Iboerahima Wartabone putra Mahkota Raja Wartabone merupakan seorang ulama agama Islam di Lembah Palu dan menjadi awal mula marga Wartabone di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Beliau selalu juga dipanggil dengan sebutan Madika Bone di Bone Tatura dan Kerajaan (Kebaligauan) Tatanga Palu dan juga dipanggil Talibu atau Teibu di Bone Suwawa Gorontalo. Membahas tokoh ini berarti kita akan menjelaskan secara mendalam apa yang telah dikembangkan oleh La Iboerahima Wartabone di Pulau Una-Una dan di Bone Tatura Palu Sulawesi Tengah dan tentu saja pengembangan agama Islam.

Demikian juga dari Marga yang bernama Wartabone tentu tulisan ini akan menjelaskan secara lebih tegas keberadaan marga Wartabone yang berada di Palu Sulawesi Tengah dan bukan yang ada di Gorontalo. Namun, tentu saja sebagai marga (keluarga besar) atau big family berarti memiliki kaitan yang erat secara genealogi dengan marga Wartabone yang ada di Gorontalo. Lebih daripada itu dia lahir dan besar dalam Kawasan Teluk Tomini yang mempengaruhi sosio-politik Gorontalo pada masanya(Haliadi-Sadi, 2014: 10).

Pendekatan agama Islam sebagai sebuah ideologi adalah pendekatan dakwah yang menduniakan Islam dalam diri manusia. Sebelum pengembangan agama Islam secara ideologi biasanya diperkenalkan dulu dengan cara mitologis. Mitos mempunyai sifat irrasional sedangkan mitos juga berguna dan bermanfaat sebagai suatu konsensus. Pemikirannya diarahkan pada pemikiran reseptif artinya menerima segala sesuatu sebagai kodrat. Manusia tidak mungkin dan tidak perlu mengubahnya. Ia harus menerima apa adanya. Setelah Islam ideologi maka agama Islam dilihat sebagai sebuah hal yang rasional dan subyektif. Ideologi memiliki sifat rasional dan subyektif serta berguna untuk sebuah kepentingan. Dalam ideologi mementingkan metodologi yang diarahkan pada hal-hal yang normatif. Ideologi juga mengajarkan cara berpikir yang tertutup. Selepas Islam sebagai ideologi baru masuk kepada pengembangan Islam Ilmu Pengetahuan. Periode ilmu ditandai dengan sifat yang objektif. Metodologi ilmu pengetahuan mementingkan yang faktual. Dalam ilmu diajarkan tentang cara berpikir yang terbuka.

Menurut pandangan umum bahwa proses pengislaman di Nusantara terjadi karena dua hal. Yakni penduduk Pribumi yang berhubungan dengan dunia luar kemudian mengenal Agama Islam kemudian menganutnya dan orang-orang asing Asia (Arab, India, Cina dan Melayu) yang telah menganut agama Islam datang menetap ke wilayah-wilayah di Nusantara dan melakukan kawin campuran sehingga menganut agama Islam yang dibawah oleh orang asing tersebut. Namun yang pasti Agama Islam telah mengantarkan masyarakat lokal menjadi masyarakat moderen atau masyarakat yang telah berpikir rasional karena sebelumnya mereka pikiran mereka dipengaruhi oleh pemikiran mitologis.

Tulisan ini akhirnya sudah menjelaskan latar belakang La Iboerahima Wartabone yang berasal dari Suwawa Gorontalo hingga mengembangkan Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Tulisan ini akan menguraikan perjalanan La Iboerahima Wartabone dari Suwawa Gorontalo-Una-Una-Bugis-Palu sebagai lanjutan. Kemudian sub judul “Dengan Islam Berakhir di Kampung Potoya Sigi Sulawesi Tengah” karena beliau kemudian meninggal di Potoya Sigi Sulawesi Tengah sebagai seorang ulama Islam bukan sebagai seorang Putra Mahkota Kerajaan Suwawa di Gorontalo karena dia meninggalkan kerajaannya hanya untuk Agama Islam.

Ulama ini nantinya terlupakan di Gorontalo sehingga ada sebagian keluarganya yang sudah melupakannya. Keadaan ini yang membuat sebagian keluarga tidak mengakui keluarga yang ditinggalkannya di Palu Sulawesi Tengah sebagai bagian dari keluarga Wartabone. Dia mengembangkan agama Islam secara ideologis supaya agama Islam tertanam dalam diri manusia penganutnya di Lembah Palu Sulawesi Tengah.


*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.