Thursday, 29 June, 2017 - 15:29

La Iboerahima Wartabone Wafat di Sigi

ILUSTRASI - Jejak Islam di Lembah Palu. (Grafis : Dok Metrosulawesi)

LA Iboerahima Wartabone menikah di Palu dengan seorang gadis bernama Roneama. Roneama adalah seorang gadis baik-baik dari  suku Kaili Palu Sulawesi Tengah. Hasil perkawinannya dengan Roneama melahirkan lima orang anak masing-masing: Lajonco, Jahia, Habasia, Susapalu, dan Sawasia. Kelima orang inilah yang menurunkan keturunan yang bermarga Wartabone di Palu Sulawesi Tengah karena berasal dari La Iboerahima Wartabone seorang putra Mahkota Raja Wartabone di Kerajaan Bone Suwawa Gorontalo.

Agama Islam dilihat sebagai sebuah ideologi untuk menyatu dengan diri manusia sekaligus agama Islam dapat bermanfaat kepada hidup dan kehidupan manusia. Pengislaman atau proses Islamisasi dilakukan secara tasawuf misalnya pemahaman atas Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW dihubungkan dengan hidup dan kehidupan manusia.
Beliau menyatakan bahwa nafas hidup itulah Allah SWT. dan nur kehidupan dari nafas itulah Muhammad SAW. Untuk kepercayaan ini supaya menjadi ideologi maka pemahaman kepada Allah SWT dan Muhammad SAW adalah dinyatakan bahwa hidup zat Allah adalah cahaya hidup yang ditafsir menjadi Allah Taala namanya Tuhan Hidup, zat Tuhan dan hidup adalah Satu. Sementara, Nyawa Nur Allah adalah cahaya nyawa yang ditafsir menjadi Muhammad Nur Allah Taala itu juga nyawa itu pula Muhammad berasal dari hidup. Akhirnya tubuh Nur Muhammad ditafsirkan sebagai Muhammad Nur Muhammad itu juga tubuh itu pula Adam AS. karena asalnya dari Nyawa.

Demikian juga bahwa pelaksanaan ajaran shalat lima waktu dihubungkan dengan tubuh manusia dan bahkan dihubungkan dengan keluarga. Duhur empat rakaat dikaitkan dengan hadapan, belakang, lambung kiri dan lambung kanan. Sementara itu ashar empat rakaat berkaitan dengan tangan kiri, tangan kanan, kaki kiri, dan kaki kanan. Kemudian, tiga rakaat untuk shalat magrib berkaitan dengan lobang hidung kiri, lobang hidung kanan, dan satu mulut. Empat rakaat shalat isya dikaitkan dengan mata kiri, mata kanan, telinga kiri, dan telinga kanan. Terakhir adalah dua rakaat subuh berkaitan dengan nafas atau pikiran dan roh atau ingatan.

Lebih jauh lagi, zuhur disimbolkan dengan huruf “alif” pada kepala, ashar disimbolkan dengan huruf  “lam” pada leher, magrib disimbolkan dengan huruf “ha” di dada, isya disimbolkan dengan “mim” pada pusat, dan subuh disimbolkan dengan “dal” pada kaki. Jadi, ajaran shalat dalam Islam adalah hidup dan kehidupan manusia itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan Islam secara ideologi pada waktu itu dengan anggapan bahwa sebagai sebuah hal yang rasional dan subyektif.

Ideologi memiliki sifat rasional dan subjektif serta berguna untuk sebuah kepentingan tertentu dengan demikian berkaitan dengan hal-hal yang normatif sifatnya.

Selain itu, ada ajaran “kutika” yang dipegang secara turun temurun oleh keluarga dan murid-murid La Iboerahima Wartabone. Naskah ini adalah pemahaman dan sekaligus pegangan terhadap hari baik dan buruk untuk menjalani hidup dan kehidupan di dunia supaya aman dan sejahtera dalam hidup. Ajaran ini mengajarkan bahwa hari-hari sama dengan pemahaman hijriyah dan masehi bahwa hari itu ada tujuh hari yakni Jumat, Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Setiap hari dibagi lima yakni pukul 6 hingga pukul 8, 8-11, 11-12, 12-3, 3-8 dan selebihnya untuk istirahat di rumah. Waktu-waktu ini disimbolkan kedalam empat macam yakni tambah = hidup, orang = mayat/mati, sama dengan = pulang pokok, kosong = kosong dan segi empat titik di tengah=berisi.

Menurut riwayat yang dapat dipercayai kebenarannya, beliau wafat di Desa Potoya Kabupaten Sigi pada 7 Desember 1897. Sejak beliau mengembangkan Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah beliau tidak pernah pulang ke Bone Suwawa Gorontalo untuk mengunjungi sanak saudaranya di sana. Namun beliau selalu mengunjungi masyarakat Gorontalo di Batu Suya. Beliau mengabdikan dirinya hanya untuk keluarga yang dibangun di Palu Sulawesi Tengah dan Agama Islam yang dikembangkannya. Selama ini tidak pernah diungkap bahwa ada proses Islamisasi yang dikembangkan oleh tokoh La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone di Palu Sulawesi Tengah.

Tradisi pengembangan Agama Islam dikembangkan oleh anak dari cucu La Iboerahima Wartabone yang lahir dari Lamacca, yakni Jarudin sebagai seorang Guru Ngaji dimanapun dia berada. Perjalanan hidup Bapak Jarudin (alm) sungguh menarik karena dalam kesehariannya beliau biasa dipanggil Om Lopu. Om Lopu Guru Ngaji atau Jarudin lahir di Petobo pada tanggal 9 Desember 1925. Nama lengkap Om Lopu Guru Ngaji adalah Jarudin bin Lamaca bin Lajonco bin La Iboerahima bin Raja Wartabone.

Pada masa hidupnya, Jarudin dikenal sebagai guru mengaji yang banyak membuka taman pengajian Alquran di berbagai wilayah di sekitar Provinsi Sulawesi Tengah. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila oleh masyarakat lokal, terutama di Kecamatan Kulawi dan di Petobo, Jarudin juga akrab disapa dengan panggilan Om Lopu Guru Mengaji. Jarudin lahir dari ibunya yang bernama Yamalera asal Petobo dan ayahnya yang bernama Lamaca yang lahir tahun 1902 di Dolo Potoya Sigi Sulawesi Tengah.

Guru mengaji sederhana ini mulanya belajar pada seorang guru yang bernama Mangge Rante atau Pue Lasadindi, kemudian juga berkenalan dan berguru juga dengan Guru Tua atau Sayyed Idrus Salim Al Jufri. Setelah itu, beliau aktif menjadi guru mengaji di berbagai tempat di Sulawesi Tengah dan almarhum Jarudin (Om Lopu Guru Mengaji) memiliki nama lengkap, yaitu: Jarudin Bin Lamaca bin Lajonco, Bin La Iboerahima, bin Raja Wartabone. Sementara dari pihak Ibu, Jarudin (Om Lopu Guru Mengaji) lahir dari Ibu keturunan Kaili yang bernama Yamalera Binti Sumbangudu yang berasal dari Petobo.

Yamalera lahir sebagai anak tertua dari tujuh bersaudara dari Ayah yang bernama Sumbangudu dan Ibu bernama Rangelusu. Saudara kedua Yamalera bernama Sandilera menikah dengan Lamasauna Bin Malonda yang menurunkan Maulidin, Haruna, dan Indolai. Saudara ketiga Yamalera adalah Parase menurunkan Ruweida, Bengge, dan Kadir. Saudara keempat bernama Paradjama yang menurunkan Hadoria, Husen, Badaria, Nadjo, dan Marni. Saudara kelima bernama Marewa menurunkan Harma dan Tante Lia, sementara saudara keenam bernama Dahina yang menurunkan Zakaria, Hate, Hawi, Djafar, Indohako, Muhtar/Tara, Indolawi dan Durman. Sementara saudara bungsu Yamalera bernama Dahira yang menurunkan Maserudi dan Arina, mereka semuanya tinggal di Petobo Palu Sulawesi Tengah.

Sementara nenek Yamalera Binti Sumangudu yang bernama Rangelusu memiliki saudara perempuan yang bernama Bongga yang dinikahi oleh Laki-Laki dari Una-Una yang bernama Mahamusa. Perkawinan tersebut melahirkan empat orang anak bernama Lajudin, Kele, Yasia, dan Hawaria. Lajudin menurunkan Tamda di Biromaru, Yasia menurunkan Yasilia, Masrudi, dan Rosi  di Kalukubula. Sementara anak ke-4 Hawaria menikah dengan Soso Ponulele yang menurunkan Sembilan orang anak, yaitu: Abd. Wahid Ponulele, Sulaeha Ponulele, Tian Sari Ponulele, Djindan Ponulele, Hulangi Ponulele, Putiha Ponulele, Ulfia Ponulele, Djatimi Ponulele, dan Ite Ponulele. Mereka inilah keluarga Jarudin (Om Lopu Guru Mengaji) dari mamanya yang bernama Yamalera Binti Sumangudu di Petobo, Biromaru, dan Kaluku Bula di Lembah Palu Sulawesi Tengah. (bersambung)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.