Saturday, 21 October, 2017 - 12:59

Maria Yeane Sandipu, Diduga Kuat Korban KDRT

Maria Yeane Sandipu semasa hidupnya. (Foto : Dok)

Tubuhnya Lebam, Ada Bekas Lilitan Tali di Leher

Palu, Metrosulawesi.com - Duka menyelimuti wartawan di Palu. Maria Yeane Sandipu, yang akrab disapa Manda, wartawati Palu Ekspres meninggal dunia, Jumat 17 Maret. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu itu diduga kuat dihabisi oleh suaminya sendiri, Johanes.

Frans, adik korban kepada Metrosulawesi di sela-sela mengurus jenazah di RS Bala Keselamatan Palu, mengaku tidak menduga kakak kandungnya itu meninggal secara tragis seperti itu.

“Semalam hingga kira-kira pukul 03.00 memang dia dan suaminya sempat bertengkar. Pertengkaran berakhir setelah kami damaikan,” kata Frans dengan mata berkaca-kaca.

Selama ini, Frans memang tinggal satu kost dengan korban dan satu kakaknya di Jalan Karoya, Palu Selatan. Petak kamar yang mereka kontrak tidak terlalu berjauhan. Sehingga ketika korban membutuhkan sesuatu, Frans dan kakaknya selalu ikut membantu.

Pagi itu, karena tak curiga apa-apa, seperti biasa, Frans bergegas berangkat ke tempat kerjanya.

“Apalagi pagi itu sekitar pukul 06.00 suami Kak Manda (Johanes,red) sudah pergi lebih dulu. Dia membawa motor dan sebuah koper,” kata Frans.

Hanya beberapa jam di tempat kerja, siangnya sekitar pukul 11.00, Frans kembali ke tempat kostnya. Didapatnya kamar korban Manda masih tertutup. Menurut kakaknya, kamar korban terus tertutup sejak pagi.

“Bersama kakak, saya  beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tetap tidak ada sahutan,” aku Frans.

Frans dan kakaknya semakin penasaran. Mereka memutuskan untuk membuka pintu. Frans melihat kakaknya Manda masih terbaring di tempat tidur.

“Saya kira dia masih tertidur. Saya berusaha membangunkan, tetapi tidak bisa. Akhirnya saya dan kakak saya, sepakat membawanya ke rumah sakit ini dengan sepeda motor,” kata Frans.

“Kami bertiga naik motor. Saya yang mengemudi. Kakak Manda kami taru di tengah. Diapit dari belakang oleh kakak saya. Kami kemudian membawanya ke ruang gawat darurat rumah sakit ini,” kata Frans.

Sebenarnya aku Frans, sejak awal dari rumah kost itu, dia sudah menduga kakaknya Manda sudah tak bernyawa lagi.

“Badan Kak Manda saat itu memang belum kaku, tapi saya curiga karena sama sekali tak bergerak. Setibanya di rumah sakit, setelah diperiksa, ternyata dugaan saya benar. Dokter bilang sudah meninggal,” kata Frans.

Frans menduga kakaknya itu meninggal karena KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Apalagi suaminya, Johanes sejak pagi hingga kini belum diketahui keberadaannya. Diduga kuat dia sudah melarikan diri.

Dugaan Frans itu sangat beralasan. Pantauan Metrosulawesi di tubuh korban tampak lebam. Di bagian leher korban terlihat memerah. Tergambar jelas bekas lilitan tali nilon. Diduga kuat korban dicekik dengan melilitkan tali nilon di lehernya. Untuk pengusutan lebih jauh, kasus kematian Manda ini, langsung dilaporkan ke Polres Kota Palu.

Kematian mendadak perempuan kelahiran Ruteng – NTT 37 tahun lalu itu, sontak saja membuat kaget semua rekan-rekan jurnalis. Puluhan wartawan langsung mendatangi kamar jenazah RS Bala Keselamatan. Mereka sedih dan prihatin, rekan seprofesi itu, meninggal dengan tidak wajar.

Yardin Hasan, rekan sekantor korban mengaku sangat terpukul. Apalagi sehari sebelumnya kata Yardin, korban sempat menyampaikan keinginannya untuk mengerjakan rubric halaman ekonomi.

“Besok kalau Sempat Saya Datang Saya kerja halaman ekonomi. Kalau tidak sempat biar Pak Abidin saja,” begitu tulis Yardin di akun facebooknya, mengutip kembali ucapan korban sebelum meninggalkan kantor Kamis malam itu.

Selama ini tulis Yardin, Maria memang diberi tanggungjawab untuk mengawal tiga rubrik, ekonomi, entertain dan rubrik perempuan. Namun karena kesibukan liputan, rubrik ekonomi kemudian ditangani rekan redaktur lainnya, Abidin Husain.

Selain wartawan, sejumlah tokoh yang selama ini memiliki hubungan baik dengan korban juga ikut berbelasungkawa. Rektor Universitas Tadulako, Prof Basir Cyio mengaku kaget mendengar kabar duka tersebut. Terlebih mendengar kematian korban dengan tidak wajar.

“Waduh kasihan. Kok bisa terjadi seperti itu. Ucapan duka saya buat keluarganya,” tulis Rektor yang hari itu masih berada di Makassar.

Di akun facebook, Rektor menulis ucapan selamat jalan buat Manda.

“Selamat jalan Dinda, komiu adalah sosok yg amat santun, sejak sama-sama di Radar Sulteng hingga saat terakhir kita ketemu,” tulis Rektor.

Pimpinan Untad itu pun memosting sms Manda yang meminta waktu wawancara soal rencana launcing RS Untad.

Melalui akun facebook, Mantan Walikota Palu, Mulhanan Tombolotutu, juga turut memberikan kesannya terhadap almarhumah ''almh. Ini yg selalu menjadikan saya narasumber,'' kata Mulhanan.

Rekan almarhumah, Jeis Montesori dari Jakarta, juga menyampaikan dukanya. Termasuk anggota KPU Palu, Satriawati yang menulis, ''Sabtu kemarin msh sempt meliput kegiatan KPU kota. ''Turut berduka cita dan duka yang sangat dalam buat sahabatku manda. Damailah engkau disana,'' tulis Satriawati.
 
Sebelum bergabung di Palu Ekspres 2013, Manda sempat menjadi wartawan di Nuansa Pos dan Radar Sulteng. Almarhumah juga tercatat sebagai anggota AJI Palu sejak 2010. Pada awal terjun menjadi wartawan, Manda lebih banyak menulis berita-berita terkait masalah hukum dan kriminal. Karena itu, Manda lebih banyak berpos di Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Palu. Setelah itu, dia berpindah liputan ke deks politik dan ekonomi. (*)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.