Sunday, 19 November, 2017 - 14:52

Memecah Kebekuan Politik Patriaki Tana Pogogul

Dra Hj Nurseha Batalipu MSi. (Foto : Ist)

POLITIK adalah jalan, Kekuasaan merupakan alat. Dalam perjalanan kehidupan sosio-politik masyarakat Kabupaten Buol, tampilnya sosok perempuan dalam ranah politik terbilang masih minim, tetapi bukan berarti tidak ada.

Secara umum, cukup banyak sosok perempuan di Kabupaten Buol yang memiliki prestasi besar dalam bidangnya masing-masing, sosok-sosok perempuan tersebut diantaranya adalah Suhartini Babay yang merupakan tokoh bidang pendidikan dan dosen di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.

Kartini Binol seorang arsitek, Nova Ruqyah Kawandau di bidang pendidikan bahasa asing dan hingga saat ini sebagai konsultan senior di LIA, kemudian ada Tante Montu mantan Jaksa.

Para perempuan asli dari Wilayah Buol yang berprestasi dibidangnya masing-masing tersebut, merupakan bukti bahwa perempuan Buol juga memiliki potensi dan kapasitas untuk berprestasi dibidangnya masing-masing.

Untuk itulah, majunya Nurseha Batalipu pada Pilkada Buol 2017 mendatang berpasangan dengan Samsudin Koloi yang merupakan ahli pertanian jebolan Institute Pertanian Bogor (IPB), tidak sekedar untuk meramaikan pertarungan politik untuk kekuasaan, tetapi juga gerak memecah kebekuan politik ‘patriaki’ di Kabupaten Buol.

Bagi Nurseha yang memilih pensiun dini dari posisinya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, untuk maju pada Pilkada 2017 ini, dia ingin berangkat dari pola pikir yang sederhana.

Dia tidak hendak gembar-gembor dengan terlalu banyak mengeluarkan gagasan, tetapi dia ingin berangkat dari kondisi nyata di tengah kehidupan masyarakat.

Menurutnya, dengan terlalu banyak ide dan gagasan, tentunya itu sama halnya dengan mengingkari pidato Presiden Joko Widodo yang menyebutkan bahwa diusinya yang ke 17 tahun ini, Kabupaten Buol masih berstatus sebagai daerah miskin.

Sehingga jika terlalu banyak gagasan, hal itu tidak akan sesuai dengan kondisi ekonomi daerah Buol, sehingga ketika ternyata pada perjalanan pemerintahannya disebut pepesan kosong.

“Itulah sederhana yang saya maksud itu, tidak muluk-muluk menjanjikan banyak hal pada rakyat, sementara realitas kondisi daerah masih begini,” ujarnya.

Meski demikian, hal itu tidak lantas membuat dirinya kelak jika diberi amanat oleh rakyat Buol. Menurut Nurseha, sudah menjadi kewajiban bagi dirinya untuk berbuat maksimal agar daerah ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah provinsi, dan tentunya dari pemerintah pusat.

Nurseha menambahkan, sebagai seorang ibu dan perempuan, sudah menjadi kewajiban dirinya setelah berkomitmen maju pada Pilkada 2017 untuk menjadikan kaum perempuan Buol memperoleh hak-haknya.

Kata dia, perempuan Buol tidak boleh lagi hanya menjadi obyek politik, tetapi sudah harus memperoleh kemuliannya dalam kebijakan yang berpihak kepada kaum perempuan.

Menurutnya, perempuan Buol sudah harus menempati posisi mewah dalam kehidupan masyarakat.

“Karena jika perempuan kita sehat, setiap hari siap apa yang harus dia sajikan untuk suaminya, dia tenang mengurus anak-anaknya, secara otomatis suaminya juga akan tenang bekerja, dan pulang membawa hasil untuk keluarganya. Inilah siklus dalam kehidupan rumah tangga yang harusnya mendapat dukungan dari pemerintah,” ujarnya.

Kata Nurseha, dengan menduduki posisi sebagai wakil bupati, tentunya dia akan memiliki hak dan kesempatan lebih luas untuk mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak kepada kaum perempuan di Buol.

Dan ini beda dengan ketika dia masih berstatus sebagai kepala SKPD, yang semuanya harus berdasarkan perintah dan persetujuan dari pimpinan, dalam hal ini bupati.

“Karena kalau dulu saya hanya seorang anak buah, paling hanya mengusulkan, jika disetujui atas ya Alhamdulillah dan jika tidak ya mau apalagi,” katanya.

Dia menambahkan, meski mulai masuk ke dunia politik, Nurseha mengaku tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang ibu rumah tangga.

Nurseha mengaku, dimanapun dan sesibuk apapun, dia tetap menjaga komunikasi dengan suami dan anak-anaknya.

Nurseha selalu menyempatkan untuk menelepon suami dan anak-anaknya, sekedar untuk menanyakan kabar dan kondisi orang-orang yang selalu memberinya semangat untuk beraktifitas dan berkarya.

“Ya, jangan sampai kita mentang-mentang sibuk, lalu lupa dengan keluarga. Saya dan perempuan lainnya bisa, adalah berkat dorongan dan restu keluarga juga. Kalau dengan alasan sibuk lantas kita lupa dengan keluarga ya sia-sia lah,” katanya.

Bahkan, jika sedang berada di rumah, Nurseha nampak tak segan-segan menyiapkan kopi dan teh bagi orang-orang yang banyak berkumpul di rumahnya.

“Itu cara saya berbagai perhatian dan kasih sayang dengan mereka, mereka sangat sayang dan perhatian dengan saya, meski hanya dengan kopi dan teh itulah bentuk perhatian saya terhadap mereka, apalagi saya kan perempuan,” senyumnya.

Nurseha menambahkan, anak-anak merupakan harta tak ternilai suatu keluarga, untuk itulah dia selalu menjaga komunikasi dengan anak-anaknya. Dan hal itu pulalah yang mendorong dirinya untuk maju pada Pilkada Buol 2017 mendatang.

Dia ingin anak-anak di Buol dapat menikmati kehidupan dan hak-haknya sebagai anak, mulai belajar dan bermain.

Dia menambahkan, mayoritas masyarakat Kabupaten Buol dengan mata pencaharian sebagai seorang petani, kemudian memperoleh pemimpin yang ahli pertanian seperti Samsudin Koloi, merupakan jaminan untuk memperoleh kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

Jika petani bisa mengolah sawah dan ladangnya dibawah bimbingan seorang pemimpin dalam bentuk kebijakan yang tepat, secara otomatis akan meningkatkan derajat hidup masyarakat itu sendiri.

Sehingga para istri pun hidup senang dan tenang, dan anak-anak dapat sekolah.

“Termasuk juga, pernah dalam kegiatan saya, ada masyarakat yang mengeluhkan kenapa di daerahnya tidak ada tenaga kesehatan, kalau demikian bagaimana jika ada ibu-ibu yang sakit, atau hendak melahirkan, ini kan kasihan,” tuturnya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.