Thursday, 23 March, 2017 - 18:33

Menanti Kerjasama Militer Turki-Arab Saudi

Presiden Turki bertemu Raja Salman di Riyadh, 17/2/2017. Foto: Ist

Metrosulawesi.com - Hanya beberapa hari pasca pertemuan bilateral Turki-Arab di Ankara pada awal Februari, visi kepemimpinan kedua negara terwujud. Pertemuan yang dirintis sejak April 2016 ini membuahkan poin-poin penting kerjasama strategis kedua negara mengenai isu regional dan internasional.

Pertemuan Dewan Koordinasi antara Turki dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi hanyalah jalan bagi pertemuan puncak Presiden Erdogan dan Raja Salman di Riyadh. Pada pertemuan di Ankara, Erdogan turun langsung menyambut Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir di istana negara. Mengindikasikan Turki sangat berharap menjalin kerjasama erat dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk setelah bangkitnya ambisi keserakahan global, pencabikan wilayah dan isu muslim di seluruh dunia.

Para pemimpin Turki dan Arab berkoordinasi untuk menangani pemimpin dunia seperti Presiden AS Trump, Presiden Perancis Hollande, Kanselir Jerman Merkel, dll. Koordinasi tersebut dalam rangka mengekspresikan penolakan menghubungkan Islam dengan terorisme pada statemen politik mereka.

Posisi pertemuan dua negara muslim besar diharapkan mendapat dukungan dari para pemimpin Arab lain dan pemimpin muslim. Mereka harus sepakat untuk menolak penggunaan Islam dan terorisme dalam kalimat yang sama. Hal ini untuk memaksa para pemimpin Barat dan Timur menghindari kombinasi ini dan menemukan frasa lain untuk mengutuk terorisme tanpa menggambarkannya sebagai Islam.

Jika tidak, bentrokan antara peradaban dan agama akan meningkat. Menghubungkan Islam dengan terorisme tanpa memilah agama lain, filosofi, ideologi dan kebudayaan akan menciptakan suatu keadaan permusuhan umat Islam pada pemimpin tersebut. Juga mereka akan membantu para teroris yang menggunakan agama sebagai alat untuk menghasut masa dalam perang agama dan budaya, penyebaran kebencian antar negara, bangsa dan agama.

Penting untuk membentuk komite aktif di semua bidang agar dapat dikoordinasikan dengan baik. Tugas Koordinasi Dewan adalah untuk mewujudkan kesepakatan yang ditandangai menjadi kenyataan di lapangan. Dewan ini bertugas mengkoordinasikan antara kedua negara di bidang politik, diplomasi dan hubungan konsuler.

Selain itu juga mengkoordinasikan hal yang berkaitan dengan ekonomi, perdagangan, perbankan, keuangan, pelayaran, produksi, energi, pertanian, budaya, pendidikan, teknologi, hubungan militer, industri persenjataan dan keamanan, media dan pertelevisian.

Pertemuan puncak antara Erdogan dan Salman merupakan rintisan 6 pertemuan sebelumnya selama hampir dua tahun. Disamping puluhan pertemuan antara pejabat Turki dan Arab. Namun masyarakat masih merasakan kepedihan karena tidak terlihat fakta perkembangan di lapangan setelah pertemuan puncak tersebut. Bahkan masih tampak terlihat pertentangan kepentingan dalam beberapa kasus.

Contohnya upaya Turki dalam memberlakukan zona aman di Suriah Utara, pembersihan kota Arab dari pihak teroris Kurdi, komunikasi Turki-Rusia, perjanjian Aleppo dan konferensi Astana tanpa melibatkan Saudi. Posisi ini menimbulkan pertanyaan kurangnya posisi Saudi yang jelas terhadap Turki sementara Turki seperti bertindak sendiri, terutama mengenai isu Suriah.

Bisa saja operasi yang dilakukan Turki tersebut sejatinya bekerjasama dengan Saudi namun merupakan operasi rahasia yang tidak diungkap publik. Namun rakyat kedua negara juga harus merasakan hasil yang dicapai pada kerjasama ekonomi, pariwisata, industri dan militer kedua negara.

Kemajuan terukur yang diinginkan rakyat kedua negara dan rakyat muslim lain adalah kerjasama yang efektif di bidang industri militer bersama karena kedua negara ini terlibat dalam manuver militer bersama dalam dua tahun terakhir. Mereka berdua dipaksa memasuki pertempuran di luar perbatasan mereka yaitu Yaman dalam kasus Arab Saudi dan Suriah dalam kasus Turki.

 

Muhammad Zahid Gul

Diterjemahkan dari Middle East Monitor

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.