Thursday, 20 September, 2018 - 06:43

Mengenal Anjas Lamatata, Pebisnis Property di Palu

Anjas Lamatata. (Foto: Ist)

BIODATA:
  • Nama: Anjas Lamatata
  • Umur: 40 tahun
  • Lahir di Palu
  • Istri: 1
  • Anak: 4
  • Alamat: Kompleks Perumahan Petobo Residen 2, Kelurahan Petobo, Palu Selatan.
  • Pekerjaan: Komisaris CV Kaili Novangga Property
  • Organisasi: Wakil Ketua Komisi Motocros dan Grastrack Pengprov IMI Sulteng (2017-sekarang), Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kota Palu (2017-sekarang), Wakil Ketua Bidang Lingkungan Hidup REI Sulteng 2017-sekarang, Ketua Club Kaili Novangga Motor Sport, Ketua Club Kaili Novangga Stable, Ketua Club Kaili Novangga Horseback Archery

Modal Awal Rp30 Juta, Bangun Ratusan Unit Rumah

"Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."

Ungkapan Presiden Soekarno yang terkenal itu telah menginspirasi Anjas Lamatata, pria pemimpi dari pinggir selatan Kota Palu, Sulawesi Tengah. Meski tak punya modal besar, Anjas berani bermimpi membangun bisnis property di tanah kelahirannya, Tanah Kaili.

Kini, setelah lebih dari lima tahun merintis usaha, mimpinya berwujud kenyataan. Sulit untuk menebak bahwa pria yang belum sempat menyelesaikan pendidikan S1-nya itu, ternyata omzetnya bisa tembus Rp1,2 miliar per bulan. Bagi pebisnis yang belajar secara otodidak, dia merasa omzet sebesar itu masih seperti mimpi indah.

Dia membeberkan modal awalnya membangun bisnis property hanya Rp30 juta. Lalu bersama sang istri tercinta, dia merangkak, pelan, sampai akhirnya bisa berdiri sendiri seperti sekarang. Di bawah bendera CV Kaili Novangga Property, Anjas terus melangkah maju. Kini, dia membangun perumahan bersubsidi di Petobo hingga mencapai ratusan unit.

Bagaimana pria 40 tahun ini membangun bisnisnya? Saat berbincang santai dengan wartawan Metrosulawesi di salah satu warung kopi di Kota Palu, Kamis 1 Maret 2018, alumnus STM Muhammadiyah Palu ini membeberkan triknya.

Dia berharap bisa menginspirasi anak muda Palu terutama putra daerah agar membangun bisnis tanpa rasa takut. Bangkit dan tidak risau dengan modal usaha. Buktinya, dengan modal Rp 30 juta, dia bisa berbisnis property dan kini mempekerjakan puluhan orang.

Wakil Ketua Bidang Lingkungan Hidup Real Estate Indonesia (REI) Sulteng ini mengatakan, sebelum memiliki perusahaan sendiri, dia hanya merancang gambar bangunan untuk orang lain. Dia memanfaatkan keahlian yang diperolehnya saat bersekolah di STM jurusan bangunan.

“Tahun 2010, saya mulai dari tenaga teknis, karena saya dari teknik, maka saya merancang gambar bangunan,” kata Anjas Lamatata memulai obrolan santai.

Dari situ, dia berpikir untuk membangun usaha sendiri di bidang property. Dia ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.

“Saya berpikir kalau saya tidak melangkah maju, bagaimana dengan saya punya anak-anak ke depan,” ujar Anjas Lamatata.

Tiga tahun kemudian, setelah melalui pergumulan dalam dirinya, sampailah pada sebuah titik. Anjas memberanikan diri membangun kompleks perumahan di Bulili, Kelurahan Petobo, Palu Selatan. Dia mengaku terinspirasi dari ungkapan Presiden Soekarno “Gantungkan cita-cita mu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

“Tahun 2013 saya sudah mulai jalan sendiri. Perumahan pertama yang saya bangun Petobo Residence I sebanyak 12 unit di Bulili, Petobo. Waktu itu saya jual Rp 250 juta per unit,” katanya.

Jalan rezekinya terbuka. Hanya dalam lima bulan, 12 unit rumah di Bulili laku terjual. Dia menyelesaikan proyek pertamanya itu dalam waktu satu tahun.

“Lima bulan sudah laku semua, dan satu tahun selesai 12 unit,” ujarnya.

Lantas bagaimana modal Rp30 juta membangun 12 unit rumah? Dia katakan, lokasi tanah tempatnya membangun perumahan merupakan milik keluarganya. Inilah yang dimaksudkan bahwa kepercayaan sangat penting dalam dunia bisnis. Dia berhasil meyakinkan keluarga dekatnya itu agar mau memberikan lokasi tanahnya untuk dibangun perumahan.

Karena modal hanya Rp30 juta, maka strateginya rumah tidak dibangun serentak 12 unit, tapi secara bertahap. Uang muka (DP) yang dibayar oleh user kemudian digunakan untuk membangun lagi. Ketika rumah selesai terbangun, kemudian pembayaran dilunasi oleh konsumen. Begitu seterusnya. Dan, dalam lima bulan 12 unit rumah terjual, meski butuh waktu satu tahun untuk menyelesaikan pembangunannya. Lagi-lagi dia mampu meraih kepercayaan user. Sebagai pengembang perumahan masih baru, selain meyakinkan keluarganya yang pemilik tanah, dia juga berhasil meyakinkan konsumennya.

Dari 12 unit tersebut, modal yang tadinya hanya Rp30 juta menghasilkan sekitar Rp3 miliar. Itu adalah hasil penjualan Rp250 juta per unit. Tapi, dia tak segera menikmati hasil jerih payahnya. Putar otak lagi afar roda bisnis terus berputar. Modal tak boleh didiamkan. Bendera CV Kaili Novangga Property harus terus berkibar di Tanah Kaili.

“Setelah saya selesaikan di Bulili, saya lihat pangsa pasar setengah mati membangun rumah komersial (nonsubsidi). Akhirnya, saya belok kanan, saya bangun rumah bersubsidi,” ungkapnya.

Anjas berhasil menguasai lokasi tanah yang lebih luas di Petobo. Kini, langkahnya semakin percaya diri. Penuh keyakinan ingin meraih cita-cita dan mewujudkan mimpinya seperti ungkapan Soekarno, Presiden RI pertama.
 
Dia memulai kerja kerasnya lagi. Setelah Petobo Resindence I di Bulili terbangun 12 unit, dia kemudian membangun Petobo Residence II. Lagi-lagi, dengan pertimbangan dan strategi matang. Dengan modal yang tersedia, pembangunan harus bertahap. Maka tahap pertama hanya 16 unit.

Dia terus melangkah. Petobo Residence II tahap 2 terbangun 36 unit. Petobo Residence II tahap 3, sebanyak 86 unit terbangun. Petobo Residence II tahap 4 rampung 36 unit.

“Sekarang Petobo Residence II tahap 5 sementara pembangunan. Ada 87 unit,” ujarnya bersemangat.

Residence II tahap satu sampai tahap lima berada di lokasi yang sama. Jika semuanya sudah terbangun, maka total 273 unit rumah telah dia persembahkan untuk pembangunan Kota Palu, kota yang dicintainya. Adapun harga rumah yang bersubsidi sesuai yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 136 juta.

Atas kerja kerasnya membangun rumah bersubsidi, dia juga mendapat bantuan pembangunan prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Niat saya adalah bagaimana saya berkontribusi untuk membangun daerahku. Palu adalah tanah kelahiranku. Melalui usaha property ini, saya ingin menjadi bagian dari pembangunan kota yang saya cintai,” ujarnya.

Anjas Lamatata selain menyediakan perumahan dengan harga yang terjangkai karena bersubsidi, dia bisa membuka lapangan kerja.

“Saya menggunakan tenaga warga di sekitar Petobo. Saya bina agar menjadi tenaga marketing, teknisi yang baik. Suatu saat mereka bisa mengembangkan diri. Saya menggunakan tenaga kerja biasa sampai 70 orang,” ujarnya.

Niat Bangun Daerah

Membangun bisnis bukan tanpa tantangan. Apalagi pengembang perumahan di Kota Palu semakin banyak. Anjas mengakui, setiap pebisnis property harus siap bersaing dengan pengembang lain. Begitu juga dengan harga bahan bangunan dan lokasi tanah yang akan terus mengalami kenaikan.

Pada saat yang bersamaan, juga harus memikirkan tenaga kerja dan bagaimana mengatur keuangan perusahaan. Tapi, bagi Anjas yang terutama dalam berbisnis property adalah menjaga kualitas rumah. Memelihara kepercayaan konsumen yang terpenting.

“Saya utamakan kualitas, maka tidak sulit pemasarannya,” katanya.

Dia pun mengajak anak muda Palu, putra daerah membangun kampung halamanNya. Tidak menjadi penonton dan berdiam diri. Anjas menyarankan kepada anak muda yang hendak berbisnis property agar tidak mengabaikan kualitas produknya. Jika kualitas terjaga, maka konsumen akan datang dengan sendirinya.

Selain itu, kuatkan niat dan ikhlas ingin membangun daerah dan menjaga kepercayaan relasi. Pekerjaan itu harus ditekuni.

“Kalau sudah tampilkan kualitas, maka dengan sendirinya orang akan percaya kepada kita. Itulah yang saya lakukan selama menjalani bisnis property ini,” ungkapnya.

Terlepas dari semua itu, dia mengaku bahwa sejak awal merintis bisnis sampai saat ini tak terlepas dari dukungan istrinya. Baginya, tanpa dukungan dari sang istri tercinta sulit untuk sampai pada posisinya saat ini.

“Kalau istri tidak mendukung, sulit juga,” katanya, sembari memperbaiki posisi duduknya. (zal/edy)