Thursday, 23 March, 2017 - 18:48

A Muhammad Hatta Tajang, “Muallaf” yang Berharap Warga Sulteng Tinggalkan Riba

A Muhammad Hatta Tajang. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

HATTA Tajang tiba-tiba meminta wawancara dihentikan saat azan berkumandang.

“Maaf, kita salat asar dulu. Setelah itu kita lanjutkan wawancaranya.”

Nama lengkapnya A Muhammad Hatta Tajang. Sudah dua tahun menduduki jabatan sebagai Kepala Cabang BNI Syariah Palu. Bicaranya santun dengan nada tenang, tidak meledak-ledak.

Sebelum bergabung di Bank BNI Syariah, dia bekerja di bank konvensional.

“Saya ‘muallaf’ dari bank konvensional,” katanya diiringi senyum, ditemui di ruang kerjanya di Kantor Cabang BNI Syariah Jalan Jenderal Sudirman, Palu, Kamis 5 Januari 2017.

Muallaf yang dia maksudkan adalah keluar dari bank konvensional dan beralih ke bank yang menerapkan prinsip syariah sesuai prinsip Islam. Mengapa beralih ke bank syariah? Hatta Tajang mengatakan, “Karena prinsip keadilan yang diterapkan di bank syariah.” Dia menceritakan bahwa akhirnya memilih pindah ke bank syariah justru karena terpengaruh nasabahnya di bank konvensional.

Saat masih di bank konvensional, Hatta bertemu dengan nasabah yang menolak bunga bank. Nasabah itu menabung dan meminta agar bunga dari uang simpanannya itu dikeluarkan.

“Waktu saya masih di bank konvensional, ada satu dua nasabah yang tidak mau ambil bunga. Mereka simpan uang, tapi minta disetting dan mengatakan ‘kalau ada bunga tolong dikeluarin’. Mereka tidak mau ambil bunga,” kata Hatta Tajang.

Permintaan nasabah yang diluar kebiasaan itu justru membuat Hatta penasaran.

“Saya pelajari, nasabah itu hidupnya tenang, lalu saya beli buku, saya belajar dan inilah yang memotivasi saya, inilah jalan hidup,” katanya.

Setelah membaca buku dan bergaul dengan nasabah yang menolak bunga bank itulah yang menjadi jalan. Dia menemukan bahwa ada prinsip yang membedakan antara bank konvensional dengan bank syariah.

“Ada prinsip keadilan di dalamnya,” katanya.

Pria yang bekerja di bank sejak 1995 ini akhirnya mengambil keputusan bulat, segera pindah ke BNI Syariah. Tahun 2004, terbuka peluang menjadi Wakil Kepala Cabang BNI Syariah di Pekanbaru, Riau. Ini adalah kesempatan terbaik untuk segera beralih ke bank syariah.

Dia harus bersaing dengan 30 orang lainnya yang lebih berpengalaman di perbankan.

“Alhamdulillah, saya urutan ke 16. Ada 15 nama di bawah saya dan di atas saya tidak lolos. Hanya satu yang diterima,” katanya.

Ketika itu, tahun 2004 bergabung di BNI Syariah bukan perkara mudah, karena yang diterima unsur pimpinan sehingga selain bersaing dengan 30 orang lainnya, dia juga harus memiliki pemahaman soal perbankan sekaligus ekonomi syariah. Tesnya saat itu juga soal amalan-amalan seperti kehidupan keseharian, puasa dan baca quran.

“Disuruh ngaji, ditanya pusasanya, salat duha, sampai salat tahajjudnya. Tes yang melelahkan,” ujarnya.

Pilihannya membawa berkah. Selain ketenangan hidup, sejumlah posisi penting dipercayakan kepadanya. Setelah menjadi wakil pimpinan BNI Syariah Cabang Pekan Baru, sejumlah jabatan pun diamanahkan kepadanya baik di kantor pusat BNI Syariah maupun di kantor cabang di daerah di antaranya Kepala BNI Syariah Cabang Kediri, Makassar, Bumi Serpong, sampai langkahnya tiba di Kota Palu tepat pada 12 Januari 2015.

Selama hampir dua tahun bertugas di Palu Sulawesi Tengah, dia melihat pangsa pasar perbankan syariah masih sekitar 5 persen. Artinya, 95 persen, nasabah masih di bank konvensional. Pangsa pasar perbankan syariah juga terjadi secara nasional. Meski demikian, dia optimistis perbankan syariah akan terus berkembang di tahun-tahun yang akan datang.

“Mengajak saudara-saudara kita yang 95 persen yang masih terjerat dalam suasana riba, kita keluarkan agar bisa bergabung dengan yang 5 persen di bank syariah yang terbebas dari riba,” kata Hatta Tajang.

Menurutnya, potensi pasar di Sulawesi Tengah masih terbuka lebar. Apalagi, kata dia pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah mencapai dua digit.

“Potensinya sangat besar sekali, selama ini masih ada yang menggunakan kartu kredit konvensional. Kita (BNI Syariah juga) ada kartu kredit berbasis syariah, kita bisa pasarkan,” ujarnya.

Dia mengakui terdapat kendala geografis dalam pengembangan perbankan syariah di Sulteng. Kota-kota satelit yang perpotensi berkembang seperti Luwuk, Tolitoli, dan Morowali secara geografis terpisah jauh dari Palu.

Menghadapi kendala itu, BNI Syariah Palu menempatkan staf kolokasi di BNI induk di daerah. Misalnya di Luwuk Banggai ditempatkan tenaga staff BNI Syariah di kantor BNI induk di Luwuk.

“Bisa buka rekening BNI Syariah di BNI induk misalnya di Tolitoli, Ampana, Poso, dan daerah lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, BNI Syariah memanfaatkan teknologi yang ada di BNI induk untuk memudahkan nasabah bertransaksi.

“Teknologi itu bebas nilai, teknologi kalau dibawa kejahatan akan jahat jadinya. Teknologi untuk kebaikan, akan menimbulkan kebaikan. Teknologi ini hanya sarana alat,” katanya.

Saat ini, pihaknya menyasar potensi yang ada  pemerintah daerah. Sebelumnya Donggala sudah melakukan kerjasama dengan BNI Syariah Cabang Palu dan telah menempatkan dananya. Begitu juga daerah lainnya, termasuk Kota Palu dan Pemerintah Provinsi Sulteng yang dalam proses.

“Perlu pemahaman masyarakat bahwa BNI Syariah bank yang tetap berharap profit. Tapi, bank syariah mengusung dua hal, pertama falah akhirat dan kedua pada laba, Kalau konvensional profit oriented, kalau kita di bank syariah, akhirat juga,” ujarnya mengakhiri perbincangan. (mil/zal)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.