Thursday, 23 March, 2017 - 18:35

Pers Kita dan Hoax

ILUSTRASI - Hari Pers Nasional. (Grafis : dewatanes.com)

PERAYAAN Hari Pers Nasional tahun ini dipusatkan di Ambon, Maluku. Berbeda dari sebelumnya, karena dirayakan di tengah maraknya berita Hoax yang menyesatkan dan bahkan menjurus kepada hal yang tak bertanggungjawab. Hal ini juga terkait dengan independensi, akurasi dan kredibilitas berita yang dihadirkan media pers itu sendiri.

Teringat saya buku yang ditulis Bill Kovach yang berjudul “Element off Journalism” yang antara lain merumuskan bahwa jurnalisme itu harus menjaga independensi dari objek liputannya dan membuat berita yang komprehensif serta profesional. Kedua hal ini erat kaitannya dengan akurasi berita yang disajikan kepada masyarakat. Artinya bukan Hoax.

Dalam hal ini si wartawan selaku penyaji berita dan penerbitan sebagai medianya, seharusnya tidak dengan mudah menerima berita lalu menuliskannya dalam sebuah berita.

Sementara masyarakat kita sekarang, dampak dari era globalisasi dan kebebasan saban hari dijalin sajian berita yang belakangan ramai dibicarakan kalau itu Hoax. 

Sebab dalam berita, yang namanya komprehensif bukan berarti sensasional apalagi Hoax. Sama sekali tidak dibenarkan ada unsur Hoax dalam sebuah berita. Sedangkan unsur independensi, seorang wartawan harus benar-benar independensi dalam melakukan tugas jurnalistik.

Wartawan dalam melakukan tugas harus objektif dan tidak terpengaruh apapun dan oleh kepentingan apapun juga.

Di sisi lain, perkembangan media sosial yang begitu pesat dan tidak bisa dielakkan seiring melesatnya teknologi informasi, semakin memudahkan orang untuk mengakses berita tanpa batas.

Seorang tokoh pers nasional Bagir Manan mengatakan, perkembangan media daring dan media sosial tidak bisa dielakkan. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi yang memudahkan perubahan itu.

Juga disebabkan oleh adanya kebebasan pers yang berbeda dengan zaman orde baru, dimana kontrol pemerintah sangat kuat, termasuk kepada pers. Jauh berbeda setelah era reformasi yang semakin bebas sehingga melahirkan berita yang kita kenal Hoax, dan kini memusingkan banyak kalangan bukan hanya pemerintah.

Di Sulawesi Tengah (Sulteng) saat ini, setidaknya sudah puluhan perusahaan pers yang mampu menerbitkan media-media berkualitas yang bisa menjadi referensi bacaan bermutu. Di era 80 sampai 90, perusahaan pers di Sulteng bisa dihitung dengan jari tangan. Kini, tambah jari kaki pun sudah tidak cukup. Artinya, sudah begitu banyak media yang lahir di era reformasi ini.

Bahkan media elektronik pun kini hadir di Sulteng. Kalau dulu hanya radio, kini televisi juga sudah ada di Sulteng sekarang ini. Ini sebuah proses kemajuan dalam bidang pers atau media. Lalu apa dan bagaimana dengan dampaknya?

Hemat saya, tugas kita menyempurnakan apa yang ada sekarang agar benar-benar menjadi sebuah aset bagi perkembangan daerah. Semoga!

Bravo Hari Pers Nasional, 9 Februari 2017.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Berita Terkait