Thursday, 18 January, 2018 - 09:38

Potensi Zakat Sulteng Belum Digarap Maksimal

Ketua Baznas Sulteng, Prof Dahlia Syuaib. (Foto : Dok)

Baznas Laporkan PNS tak Bayar Zakat

Palu, Metrosulawesi.com - Sulteng memiliki potensi zakat, infaq dan sedekah yang sangat besar. Sayangnya, potensi itu belum digarap maksimal.
 
Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sulteng, Prof Dahlia Syuaib, mengatakan, kedepan potensi zakat itu harus benar-benar bisa tergarap dengan baik.

“Di lingkungan pegawai negeri saja misalnya, belum semua PNS menyalurkan zakatnya ke Baznas,” katanya kepada Metrosulawesi di ruang kerjanya, Senin 18 Juli 2016.
 
Ada beberapa menurut Dahlia, alasan yang bisa jadi penyebab mengapa sebagian PNS belum menyalurkan zakatnya ke Basnas. Salah satunya, bisa saja karena petugas yang ditugasi mengumpulkan zakat itu tidak bekerja. 

“Nah kedepan, masalah ini akan kami benahi. Potensi zakat dari PNS ini akan kami garap maksimal, sehingga penerimaan  bisa bertambah,” katanya.

Untuk memaksimalkan penyalurkan zakat dari PNS, pihaknya akan mendata seberapa banyak PNS yang beragama Islam di dalam suatu instansi. Dari data ini bisa diketahui, berapa yang membayar zakat ke Basnas dan berapa banyak yang tidak. 

“Data-datanya nanti akan saya buat, kemudian saya akan laporkan ke Bapak Gubernur. Mana PNS yang PNS yang bayar zakat dan mana yang tidak,” ujar Dahlia.

Di bagian lain, Dahlia menjelaskan, Baznas Sulteng akan menyeleksi benar sebelum akhirnya menyalurkan bantuannya.  Bantuan yang diberikan pun tidak dalam bentuk uang tunai.

“Kami ingin agar bantuan itu benar-benar diterima oleh mereka yang berhak. Kami juga ingin agar bantuan itu bisa memberikan dampak berkelanjutan,” katanya.

Dahlia mengakui ada banyak menerima proposal yang memohon bantuan dari Baznas. Namun tidak semua proposal bisa langsung dipenuhi. Setiap proposal yang masuk harus dicek kebenarannya di lapangan. Misalnya, ada proposal yang meminta bantuan pengadaan talkun untuk para lansia. Ini perlu diteliti, apakan memang seperti itu. Kalaupun ada, maka bantuan yang disalurkan tidak dalam bentuk uang tunai, melainkan dalam bentuk barang, sebagaimana yang dimintakan.
 
Dalam waktu dekat ini kata Dahlia, pihaknya akan mendatangi sekolah-sekolah untuk mencari tahu seberapa banyak siswa yang berasal dari keluarga miskin. Dengan adanya data yang akurat, maka pihaknya akan mudah memberikan bantuan.

Kedepan kata Dahlia, pemberdayaan masyarakat miskin akan menjadi fokus utama. Artinya, bantuan yang diberikan tidak hanya sekadar bermanfaat sesaat saja.

“Kami ingin agar bantuan yang kami berikan bisa memberikan dampak yang panjang. Dalam artian bisa mengangkat derajat warga miskin, dari semula tidak bisa menghasilkan, menjadi keluarga yang berpenghasilan cukup,” kata Dahlia.

Untuk itulah kedepan, Baznas Sulteng akan memberikan bantuan yang sifatnya produktif. Salah satunya, memberikan pelatihan keterampilan bagi mereka yang mendapat bantuan modal usaha. Dengan cara seperti ini menurutnya, manfaat bantuan itu akan bisa mengangkat kehidupan warga miskin.

Untuk memaksimalkan manfaat bantuan, Baznas Sulteng akan mengevaluasi setiap bantuan yang diberikan. Misalnya, sebelum bantuan itu diserahkan, lebih dulu mendata kondisi kehidupan si penerima. “Saya ingin agar bantuan itu benar-benar memberi manfaat. Caranya, kami akan data kondisi si penerima bantuan, kemudian dievaluasi lagi bagaimana kondisinya setelah menerima bantuan. Dengan cara itu, kami bisa tahu dampaknya. Jadi benar-benar terukur. Tidak hanya sekadar member bantuan,” ujarnya.

Dahlia mengaku, sejak dia bergabung di Baznas, dana zakat dan infaq yang terkumpul mencapai Rp1,5 miliar lebih. Sementara penerimaan lebaran baru-baru ini mencapai Rp210 juta. Pengeluaran atau bantuan yang disalurkan pada lebaran mencapai Rp204 juta.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.