Thursday, 20 September, 2018 - 06:56

Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Hidayat-Sigit: Ragam Pencapaian Wujudkan Visi Misi

SALING MENGISI - Walikota Palu, Hidayat dan Wakilnya, Sigit Purnomo Said. (Foto: Ist)

Tahun kedua pemerintahannya, pasangan Walikota Palu, Hidayat M.Si dan Wakil Walikota Palu, Sigit Purnomo Said tetap menunjukkan eksistensinya dalam mewujudkan visi misi pembangunan Kota Palu, yakni mewujudkan Palu sebagai kota Jasa, Berbudaya dan Beradat, dilandasi Iman dan Taqwa. Seperti apa? Berikut sekilas laporannya.

DALAM mewujudkan visi misi itu, ada beberapa strategi di usung pasangan ini, diantaranya pengembangan daya saing SDM yang berlandaskan iman dan taqwa, kelurahan inovasi unggul dan mandiri, penataan dan pengembangan infrastruktur, peningkatan pelayanan kesehatan dan revitalisasi nilai-nilai budaya bangsa.

Pengembangan SDM

Dari awal kepemimpinannya, Walikota dan Wakil Walikota Palu, Hidayat-Sigit Purnomo menginginkan pengembangan SDM yang berlandaskan iman dan taqwa untuk meningkatkan pendidikan karakter yang berkesinambungan sesuai dengan Nawacita Presiden Jokowi. 

Hal pertama yang dilakukan Walikota Hidayat yaitu meningkatkan pelayanan pendidikan di Kota Palu, yang murah dan berkualitas. 

“Yang pertama kami lakukan yaitu penghapusan segala jenis pungutan di sekolah yang berada di bawah naungan Pemkot Palu, yakni SD dan SMP. Sudah beberapa kepala sekolah saya pecat karena coba-coba tarik pungutan ke siswa,” kata Hidayat di Palu beberapa waktu lalu.

Selain itu, Walikota Hidayat pun membuat kebijakan penambahan jam belajar agama pada siswa SD se-Kota Palu.

“Program Palu Kana Mapande kami terapkan pada SD di Kota Palu, dimana ada penambahan jam belajar agama hingga sore hari. Hal ini untuk membangun iman dan taqwa peserta didik, agar tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif,” katanya.

Selain itu, untuk membangun kesadaran budaya sejak dini, Walikota Hidayat menerapkan kebijakan penggunaan atribut kepala oleh siswa SD sesuai daerah masing-masing.

“Misalnya siswa Kaili menggunakan Siga, yang berasal dari Jawa, gunakan blangkon. Membangun kembali budaya cinta tanah air melalui pemahaman budaya daerah masing-masing sangat penting diterapkan kepada peserta didik,” katanya.

Kelurahan Inovasi

Di akhir 2017, Pemerintahan Kota Palu melaunching secara resmi Produk Unggulan 10 Komoditi Kelurahan Inovasi Unggul dan Mandiri Kota Palu di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore.

Walikota Hidayat mengatakan Kota Palu fokus pada pembangunan ekonomi mikro melalui pemberdayaan Industri Kecil Menengah (IKM) untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Dengan IKM yang kuat, maka akan tercipta Kelurahan Inovasi Unggul dan Mandiri berbasis Iptek bagi kemandirian ekonomi kerakyatan.

Hidayat berharap tiap kelurahan menjadi cluster beragam produk IKM yang dikembangkan di Kota Palu.

“Jika 10 IKM yang telah dibentuk saat ini  dapat berkembang, maka saya kira produknya akan cukup massif. Sehingga pada 2020, IKM ini akan masuk pada perbaikan produksi. Dan pada 2021, hasil produksi tersebut dilempar ke pasar,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Hidayat meminta 10 kelompok IKM tersebut serius dalam mengembangkan usahanya.

“Karena IKM ini kami dampingi hingga 2020. Dan bahan bakunya, misalnya pengembangan ikan lele, per tiga bulan  akan kami berikan bahan bakunya dan pakannya,” jelasnya.

Hidayat mengungkapkan pada 2021, produk IKM Kota Palu akan menyasar pasar lokal. “Kita tidak akan merebut pasar di luar daerah Sulteng, tapi kami akan merebut pasar dalam daerah kita sendiri,” katanya.

Penataan Infrastruktur

Strategi penataan dan pengembangan infrastruktur yang dilakukan Walikota Hidayat adalah berbasis kawasan. Sebesar Rp117 miliar digelontorkan Pemkot Palu pada 2017 untuk membangun infrastruktur jalan, drainase, RTH (ruang Terbuka Hijau).

“Alhamdulillah beberapa ruas jalan kami telah perbaiki, begitu juga beberapa taman  di Kota Palu ini kita perbaiki. Yang jelas pembangunan infrastruktur yang kami lakukan berbasis kawasan. Artinya, pembangunan infrastruktur dalam satu kawasan harus selesai seluruhnya, jangan setengah-setengah. Selesai di satu kawasan, pindah ke kawasan lainnya,” katanya.

Pada 2017, Pemkot Palu telah berhasil membangun dan menata beberapa infrastruktur, diantaranya membangun dua jembatan di Kelurahan Pantoloan Boya yang diresmikan oleh Kemendes RI, revitalisasi Taman Gor, RTH Petobo, Puskesmas Sangurara, dan beberapa ruas jalan serta drainase.

Pelayanan Kesehatan

Dalam bidang kesehatan, Walikota Hidayat membuat terobosan dengan program Puskesmas Nomoni, dimana seluruh Puskesmas di Kota Palu memberikan pelayanan kesehatan mulai jam 16.00-20.00 secara gratis kepada masyarakat.

“Jadi jam 4 sore hingga jam 8 malam Puskesmas di Kota Palu tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan gratis. Kami namakan program itu Puskesmas Nomoni,” katanya.

Selain itu, Pemkot Palu juga memaksimalkan program penanganan sampah melalui Gerakan Gali Gasa, untuk mewujudkan Palu sehat.

“Persoalan sampah adalah persoalan lama yang tak kunjung selesai. Oleh karena itu, pemerintahan saya dan Sigit Purnomo berjuang keras mewujudkan Palu Bebas Sampah melalui Gerakan Gali Gasa. Gerakan yang memprovokasi masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing,” katanya.

“Kami maksimalkan peran camat dan lurah untuk hal ini. Salah satunya dengan intens turun langsung ke masyarakat, melakukan imbauan dan teguran. Satgas K5 (Kebersihan, Keindahan, Kenyamanan, Keamanan, dan Ketertiban) pun dibentuk untuk membantu kinerja lurah dan camat ini,” tambahnya.

Revitalisasi Nilai Budaya

Untuk mewujudkan Palu kota jasa dan berbudaya, kata Hidayat, sangat penting memberikan perhatian khusus kepada revitalisasi nilai-nilai budaya bangsa.

“Untuk membangun itu, maka kami memberdayakan tokoh-tokoh informal yang berada di tengah masyarakat melalui pembentukan Lembaga Adat pada tiap kelurahan di Kota Palu. Peran tokoh informal ini sangat penting untuk menjaga nilai toleransi, saling menghormati, dan gotong royong di tengah masyarakat,” katanya.

Ivent budaya tahunan pun digelar oleh Pemerintah Kota Palu.

“Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) telah dua kali digelar, alhamdulillah mendapat respon positif masyarakat. FPPN adalah ajang pengenalan budaya Kota Palu secara nasional maupun internasional. Alhamdulillah, pada FPPN 2017, Negeri Jiran Malaysia berkenan hadir. FPPN juga sebagai momentum meningkatkan sektor jasa Kota Palu dengan ragam produk IKMnya, karena Kota Palu tidak memiliki sumber daya alam yang memadai. FPPN inilah sebagai pasar kita untuk menjual produk-produk IKM itu,” kata Walikota Hidayat.

Walikota Hidayat berharap pada 2018 ini, pembangunan Kota Palu dapat lebih meningkat.

“Tahun ini kami fokus pada pembangunan infrastruktur di kawasan gunung, teluk, dan bukit. Insyaallah tahun ini Kota Palu akan lebih baik,” katanya.


Editor: Udin Salim