Thursday, 29 June, 2017 - 15:33

Segera Launching, Hotel The Sya Regency Mulai Tunjukkan Eksistensi Lewat Aksi Sosial

AKSI SOSIAL - Manajemen Hotel The Sya Regency berfoto bersama usai melakukan aksi bagi-bagi takjil dan bersih-bersih di Masjid Al Firdaus, Jalan Sisingamangaraja, Palu. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Hotel The Sya Regency, salah satu hotel berbintang di bilangan Jalan Sisingamangaraja No 18 Palu akan di-launching usai lebaran nanti. “Kita belum pastikan tanggalnya, yang jelas Juli nanti kita launching,” ujar General Manager Hotel The Sya Regency Alain John-John Siwy, Sabtu akhir pekan.

Meski belum di-launching, namun hotel yang memiliki 140 kamar itu sudah mulai menunjukkan eksistensinya melalui kegiatan-kegiatan sosial. Pihak manajemen hotel baru-baru ini melakukan aksi bagi-bagi takjil kepada masyarakat di sekitarnya.

Selain berbagi takjil, pihak manajemen beserta seluruh karyawan hotel juga melakukan aksi bersih-bersih masjid yang dilakukan di Masjid Al Firdaus, persis di depan hotel tersebut.

Menurut pihak hotel, kegiatan itu untuk melengkapi kebahagiaan di bulan Ramadan dan sebagai wujud akan kecintaan terhadap lingkungan.

“Kegiatan ini sebagai salah satu kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan dari The Sya Regency Palu dengan didukung oleh seluruh staf dan manajemen. Kegiatan ini sengaja dibentuk tidak hanya untuk meningkatkan hubungan sosial antar staf, tetapi juga dengan masyarakat yang memperhatikan sektor kebersihannya,” kata dia.

Utamakan Kearifan Lokal

Menurut Alain John-John Siwy, General Manager yang sudah hilir mudik di dunia perhotelan itu, The Sya Regency merupakan hotel berbintang yang mengutamakan kearifan lokal. Hal ini juga dibuktikan dengan disain furnitur hotel tersebut.

“Ini hotel yang ownernya itu punya visi untuk mengangkat lokal konten,” ujar John Siwy.

Furniturnya rata-rata menggunakan bahan kayu lokal, kebanyakan menggunakan kayu eboni. Baik meja, kursi hingga hiasan ruangan di lobi hotel tersebut tampak terbuat dari eboni. Pemiliknya yang memang merupakan pengusaha yang pernah bergelut di dunia usaha kayu itu memanfaatkan kekayaan alam lokal. Meski menggunakan furnitur yang juga dibuat oleh masyarakat lokal, namun hasilnya tidak kalah bagus dari furnitur impor.

“Yang dimanfaatkan itu kayu, rotan dan bahan lokal lainnya. Karena ownernya memang merupakan penyuka kayu lokal,” kata dia.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.