Thursday, 16 August, 2018 - 23:03

Seni Daerah, Menyatukan dalam Perbedaan

Lomba kreasi tari daerah 2015 di Gedung Taman Budaya, Palu, Jumat (22/5). (Foto : Jose Rizal)

Palu, Metrosulawesi.com - Beragam seni tari daerah Sulawesi Tengah memeriahkan lomba kreasi tari daerah tahun 2015. Kegiatan itu digelar di gedung teater tertutup Taman Budaya Palu, Jumat (22/5) yang dibuka Wakil Gubernur Sulteng, Sudarto.

Event tahunan itu selain bertujuan melestarikan seni tari daerah, juga akan memilih perwakilan Sulteng untuk mengikuti lomba tari Nasional yang akan digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam waktu dekat. Puluhan peserta yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa mengenakan kostum adat ciri khas kabupatenya masing-masing.

Salah satu tari yang menyita banyak perhatian penonton pada lomba itu adalah tarian kreasi tradisional yang dipentaskan sanggar seni Libo kota Palu. Tari yang dipentaskan mengisahkan tentang seorang raja Kabonena, Pue Njidi ketika mengadu kesaktian dengan seorang penyebar agama Islam yang terdampar di pesisir Teluk Palu asal Minangkabau, Dato Karama.

Pada tari itu dikisahkan, Pue Njidi dan Dato Karama menanam cabei, siapa yang cabainya tumbuh subur dan langsung berbuah dialah pemenanganya. Ternyata cabai yang ditanam Pue Njidi dan Dato Karama sama-sama tumbuh subur, akan tetapi cabai Pue Njidi tidak langsung berbuah, sedangkan cabai yang ditanam Dato Karama langsung berbuah. Pue Njidi akhirnya kalah kemudian memeluk agama Islam. Konon legenda itu sebagai cikal bakal penyebaran Islam di Bumi Tadulako. Tari itu dikemas dalam gerak raego yang dinamis, dimainkan dengan aransemen musik yang menghentak.

Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng, Ardiansyah Lamasitudju mengatakan, lomba tari daerah ini digelar untuk menyatukan dan menjadi perekat perbedaan bagi warga Sulteng yang multi etnis. Diharapkan agar tidak terjadi lagi koflik yang mengatasnamakan perbedaan.

"Sulteng kaya dengan seni tradisi yang tidak kalah dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan lomba ini diharapakan dapat menyatukan perbedaan. Perbedaan jadikan persamaan untuk persatukan dengan perasaan memiliki daerah ini," ujar Ardiansyah di sela-sela acara.

Lomba itu direncanakan digelar selama dua hari, dan memperebutkan piala bergilir gubernur Sulteng. Kegiatan itu pula dihadiri perwakilan TMII, Suryasundoro, Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulteng, Siti Norma Mardjanu,dan Ketua Dewan Kesenian Suteng, Hapri Ika Poigi.


Editor : M Yusuf Bj