Thursday, 29 June, 2017 - 15:27

Syekh Lokiya dan Tarekat Sulukiyah

ILUSTRASI - Penyebar agama Islam. (Grafis : Metrosulawesi)

GERAKAN tarekat Syekh Lokiya ini menempuh jalur suluk. Ditinjau dari asal usul bahasanya. Suluk berasal dari kata dalam bahasa Arab, yaitu sulukun yang merupakan isim masdar dari salaka. Artinya, melalui atau menempuh jalan. Kemungkinan suluk berasal dari perkataan sulukun,  merupakan isim jama’ dari silkun, berarti benang atau tali yang digunakan untuk merangkai intan atau permata.

Pengertian di atas yang berkaitan dengan arti kata suluk, yaitu menempuh jalan, dapat dihubungkan dengan ajaran tasawuf. Yaitu berarti jalan yang harus dilalui untuk menuju kesempurnaan batin. Sedangkan arti suluk yang berarti benang atau tali, mempunyai makna atau pengertian bahwa suluk dipakai sebagai petunjuk yang menjadi tali pengikat atau penghubung antara makhluk dengan khaliknya. Atau bisa jadi merupakan petunjuk tentang jalan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk sampai pada makrifat Tuhan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an surat An-Nahl: 69  yang berarti “Tempuhlah jalan Tuhanmu yang dimudahkan bagimu”. Beberapa ahli tasawuf memberi tafsiran lain terhadap ayat di atas. Di  antaranya ada yang memberi arti “maka bersuluklah kamu…”, dan menjadikannya sebagai salah satu dasar bagi ajaran tasawuf. Kemudian hakikat suluk itu sendiri dalam ilmu tasawuf adalah mengosongkan diri dari sifat mazmumah (buruk) yaitu dari maksiat lahir dan batin. Dan mengisinya dengan sifat-sifat yang mahmudah (terpuji). Dalam bersuluk disyariatkan untuk melakukan sebuah perjalanan spiritual yang panjang dengan berbagai maqamnya, yang akhirnya akan memperoleh tujuan yang dikehendaki, yakni kesempurnaan iman.

Jalan kepada Allah itu banyak, sama dengan banyaknya jiwa makhluk. Adapun jalan yang paling dekat ada tiga bagian. Pertama, jalan al-akhyar, yaitu dengan banyak melakukan salat, puasa membaca Alqur’an, hadis, jihad dan lain-lain dari amal lahiriah. Salik yang sampai kepada Allah dengan jalan ini sedikit dari yang sedikit. Kedua, jalan ashab al-mujahid al-shaqa dengan latihan berat untuk mengganti akhlak yang buruk, membersihkan jiwa dan mensucikan hati. Yang sampai dengan jalan ini lebih banyak dari yang pertama. Pada yang pertama yang dilihat hanya amal lahir, tanpa yang batin. Yang kedua lebih memperhatikan batin daripada lahirnya.

Ketiga, Jalan ahli zikir, yang cinta kepada Allah lahir dan batin. Yang sampai ahli bidaya, lebih banyak ahli nihaya. Mereka ini memperhatikan amal lahir dan batin semuanya.

Adapun pokok-pokok dari jalan ini ada sepuluh. Tobat kepada Allah dari segala dosa, lahir dan batin, Zuhud di dunia, Tawakkal kepada Allah, Puas dengan apa yang diberikan Allah keadanya (qanaah), Menjauhkan diri dari makhluk dengan tidak condong hatinya kepada mereka, Benar-benar tawajuh kepada Allah, Sabar menghadapi malapetaka, Rela kepada kada dan kadar, menyerahkan semua perkara kepadaNya, Terus menerus zikir lahir dan batin, tidak alpa kepada Allah, dan Benar-benar mendekati Allah, seperti bunyi hadis yang berarti lalu bertanya tentang ihsan. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa ihsan adalah engkau menyembah Allah seperti engkau melihatNya. Jika engkau tidak mampu melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu (beribadah).

Kemudian syarat zikir menurut ahli Fana ada 10 langkah untuk sampai kepada maksud mendapat pertolongan Allah, yaitu: Cari tempat yang sepi, tidak terdengar seorang pun, Pakaian zahir suci, badan zahir dan batin suci, dengan wudhu, Melepaskan asap wangi untuk memudahkan pada waktu zikir, Duduk bersila waktu zikir, Menghadap kiblat, Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha, kemudian mengangkat jeriji telunjuk waktu nafi dan meletakkannya pada waktu ithbat, Ikhlas dalam niat hanya karena Allah, Mendatangkan arti yang hakiki dalam sirr (rahasia), Berzikir dengan kemauan, hormat, dan takzim, dan Tawajuh dengan sempurna terhadap Allah dengan menyisihkan selain Dia dari perasaan, menyisihkan diri sendiri kemudian yang berzikir dan zikirnya menjadi yang diingat sendiri, karena fana fillah.

Kesepuluh langkah itu disebut tirakat, yang menuntun peserta tarekat untuk konsentrasi dalam pikiran, sehingga potensi zikir yang terdapat jiwa, sedikit demi sedikit terpancar dalam kesaktian dan keharuman pribadi yang sudah sampai pada tingkat tajalli. Masyarakat muslim sangat menggandrungi aspek ritual ini karena dianggap sebagai buah (halawah) dari pekerjaan beribadah selama hidupnya.

Pada umumnya peserta tarekat yang masih belajar terdiri dari orang-orang yang mengetahui ala kadarnya tentang Islam, dan memanglah mereka kebanyakan terdiri dari orang-orang yang telah matang, malahan pun orang-orang yang telah berumur. Maka tinggallah mereka untuk beberapa minggu lamanya pada pusat latihan bertarekat itu, atau mereka mengunjungi pusat-pusat latihan pada waktu tertentu di mana mereka sudah sanggup mematuhi aturan yang berlaku dalam tarekat masing-masing. Ada yang membatasi jenis dan jumlah makanan dan minuman. Ada pula yang membagi waktu dengan cermat. Tiap bagian diperuntukkan bagi amal (biasanya ibadah) yang tertentu, sedangkan keseluruhan hidup selama latihan disediakan untuk zikir dan wirid.

Setelah membaca dan menelisik lebih jauh mengenai keberadaan dan peran sosial I Pue Imbatu di Towale, maka ada lima hal yang perlu disampaikan sebagai simpulan dari pembahasan ini. Pertama, berdasarkan cerita di atas dan dengan menggunakan tipologi ulama yang dikemukakan oleh Ahmad Adaby Darban, ada empat tipologi ulama yaitu (1) golongan ulama yang merangkap sebagai penguasa pusat pemerintahan, (2) golongan ulama yang masih berdarah bangsawan, (3) golongan ulama sebagai alat birokrasi kerajaan/pemerintahan, dan (4) golongan ulama pedesaan yang hidup di desa-desa dan tidak memiliki hubungan dengan kekuasaan. “Kaum ulama desa ini bekerja independen menurut kemauannya sendiri untuk mengembangkan agama Islam di daerahnya.” Dengan demikian, I Pue Imbatu adalah seorang ulama pedesaan. Kedua, belum diketahui secara pasti tahun kelahiran I Pue Imbatu, namun berdasarkan metode yang dikembangkan dengan asumsi usia setiap generasi di Towale berusia antara 25-30 tahun, maka periode hidup dari I Pue Imbatu dapat diperkirakan, yakni sekitar akhir abad delapan belas hingga awal abad sembilan belas. Kemudian tiga abad sebelum kedatangan I Pue Imbatu ke Towale, Islam telah masuk di Towale. Ketiga, sosok I Pue Imbatu sangat istimewa bagi masyarakat Towale, sebab sampai sekarang beliau adalah ikon Islam Towale yang sangat penting di Teluk Palu. Saya menyebutnya Islam Towale, sebuah kehidupan masyarakat Islam yang tidak serta merta timbul begitu saja dan berkembang, melainkan memiliki proses panjang.

Hal ini telah diabadikan lewat pembangunan Yayasan Pendidikan Islam Syekh Lokiya. Terlepas dari kesangsian saya atas pemberian gelar syekh kepada I Pue Imbatu. Keempat, menurut hemat saya bahwa berdasarkan data yang telah dikprelasikan dengan data di Towale, maka saya begitu meyakini bahwa Tuan Hadji yang dimaksud oleh David Woodard adalah I Pue Imbatu. Beliau adalah satu-satunya orang Travalla yang mampu berbahasa Melayu. Tuan Hadji yang dimaksud Woodard itu sering ke Sindue dan Tambu, Sabang dan lain-lain. Cerita mengenai I Pue Imbatu yang pernah berlayar ke berbagai Tanjung di Teluk Palu. Bahkan lebih jauh, saya masih agak sangsi bila dikatakan bahwa beliau adalah seorang ulama keturunan Towale asli pada masa itu. (bersambung)


*Tulisan yang disajikan secara bersambung ini diadopsi dari buku yang berjudul Sejarah Islam di Lembah Palu karya Haliadi-Sadi, S.S., M.Hum., Ph. D. dan Dr. Syamsuri, M. Ag.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.