Tuesday, 18 September, 2018 - 23:44

Warga Segel Akper Donggala di Kawatuna

PENYEGELAN - Gerbang Akper Donggala di Kawatuna yang disegel oleh ahli waris pagi tadi, Rabu, 10 Januari 2018. (Foto : Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Minta Direktur Akper Tunjukkan Surat Hibah

Palu, Metrosulawesi.com - Akademik Keperawatan (Akper) Donggala yang berada di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikolore Kota Palu, disegel oleh sejumlah warga yang mengaku sebagai ahli waris. Mereka mengklaim lokasi kampus Akper tersebut adalah milik dari Latadundu CS Daniroyo.

Menurut penjaga kampus yang merupakan Anggota Sat Pol PP Eko mengaku, penyegelan itu sekitar pukul 05.00 pagi, Rabu, 10 Januari 2018.

“Saya juga kaget ketika saya tidur sebentar beberapa menit di Pos pada waktu subuh, setelah saya bangun pagi tadi, tiba-tiba  pintu gerbang kampus sudah disegel, saya heran,” ungkap Eko.

Di spanduk yang terpasang di pagar dituliskan ada lima ahli waris yang merupakan cucu atau anak-anak dari Latadundu CS Daniroyo, di antaranya pertama Nawandi, kedua Baras Ando, tiga Monalinga, empat Barapali dan lima Naratika.

Perwakilan dari Keluarga Ahli Waris Alfian Hasan Labarusa mengungkapkan para ahli waris tanah menginginkan Direktur Akper Donggala Fauzan segera menunjukkan pernyataannya di dalam surat. Dimana Fauzan mengatakan bahwa tanah tersebut diperolehnya dari tahun 1990 dan dikuasai oleh beliau secara terus menerus.

“Para ahli waris meminta kesediaan Fauzan selaku Direktur Akper Donggala untuk menunjukkan surat hibah tersebut. Ini yang terpenting, karena sudah beberapa kali dilakukan mediasi di kantor Kelurahan, ternyata Fauzan ini tidak mampu membuktikan bahwa surat hibah itu ada. Sementara pernyataannya waktu itu disaksikan oleh pemerintah Kelurahan,” jelas Alfian.

Alfian mengatakan keinginan awal dari pemilik tanah, yakni para ahli waris, agar Fauzan bertindak sesuai dengan isi pernyataannya di dalam surat, yang menerangkan hibah dari tahun 1990. Tetapi pihak ahli waris tidak pernah ditunjukkan surat hibah tersebut.

“Kemudian jika benar peralihan kampus itu dari Pemda Donggala ke Untad Palu, tentunya proses peralihan itu melalui pembayaran dan maka proses pembayaran itu diminta oleh para ahli waris, agar dibuka persoalannya seterang-terangnya, sehingga para ahli waris merasa puas,” katanya.

Kata Alfian, persoalan harga, para ahli waris juga punya hati nurani, dan tidak akan memberatkan karena ini kepentingan pendidikan.

“Namun proses peralihan Pemda Donggala ke Untad kami hanya mendengar-dengar di luar saja, sehingga kami bertanya, apakah proses peralihan ini tidak diawali dengan proses pembayaran? Ganti rungi misalnya. Jika terjadi proses pembayaran itu, maka dibukalah secara terang-terangan kepada para ahli waris,” tegasnya.

Lanjut Alfian, para ahli waris juga ingin tau siapa yang menghibahkan tanah tersebut, sementara pemilik tanah ini meninggal sudah sekianpuluh tahun lalu, termasuk anak Latadundu lima orang tersebut sudah sekianpuluh tahun mereka meninggal. Tetapi terbit hibah tahun 1990 maka ahli waris sangat ingin tau siapa orang yang menghibahkan.

“Hari ini (kemarin-red)  para ahli waris meunggu perwakilan Pemda Donggala atau siapapun perwakilan dari mana saja, untuk mendegar penjelasan seterang-terangnya siapakah yang menghibahkan tanah tersebut, dan prosesnya sudah sejauh mana hingga saat ini, apa benar kampus Pemda Donggala ini sudah di ambil ahli oleh Untad, para ahli waris belum melihat bukti administarasi peralihan tersebut. Namun informasi yang ada telah terjadi peralihan,” katanya.

Kata Alfian, sertifikat Akper Donggala ada dan berdasarkan pernyataan Fauzan itu didapatkanya sesuai dengan surat hibah tersebut. Akan tetapi para ahli waris hanya melihat Foto Copy Sertifikatnya, disangkan para ahli waris terbitnya Sertifikat pada tahun 2017 berdasarkan hibah tahun 1990 sehingga ini dasar Fauzan menerbitkan Sertifikat.

“Jika sudah ada pernyataan  dari salah satu perwakilan Pemda Donggala atau misalkan dari Untad jika benar kampus ini telah diahlikan, maka kami menunggu. Kami meminta jaminan, jika sudah diberikan jaminan kepada para ahli waris baru kami buka segelnya,” ujarnya.
 
Dia jelaskan proses terbitnya Sertifikat tersebut sepertinya dilakukan secara istimewa, tanggal 17 Juni 2017 keluar surat pernyataan ibu Fauzan dan menurut Fauzan itu tidak pakai. Maka terbitlah surat yang kedua pada tanggal 10 Juli 2017 dari itu, terbit lagi Sertifikat 9 Oktober di tahun yang sama. Sehingga menurut para ahli waris pembuatan Sertifikat ini sangat-sangat istimewa.

Dalam aksi penyegelan itu, Pantauan Metrosulawesi, tampak sejumlah aparat kepolisian dan TNI berjaga-jaga di lokasi penyegelan Akper Donggola.


Editor : Udin Salim